SIKKA, DeiJournal – Ketika malam tiba, sejumlah anak di Desa Lidi, Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, masih harus belajar dengan penerangan pelita. Di saat sebagian besar anak-anak di berbagai daerah telah terbiasa belajar dengan lampu listrik dan menggunakan perangkat digital, anak-anak di desa ini menjalani aktivitas belajar dengan cahaya yang jauh lebih terbatas.

Kondisi tersebut terlihat pada Rabu (9/9/2026), ketika sejumlah anak tampak membaca dan mengerjakan kegiatan belajar dengan bantuan penerangan pelita. Desa Lidi hingga kini belum mendapatkan pasokan listrik sejak desa tersebut berdiri. Desa ini dihuni sekitar 388 kepala keluarga (KK).

Ketiadaan listrik tidak hanya dirasakan ketika anak-anak belajar. Setelah matahari terbenam, aktivitas masyarakat juga harus menyesuaikan dengan keterbatasan penerangan. Sejumlah warga menggunakan pelita, sementara sebagian lainnya memanfaatkan aki untuk menyalakan lampu di rumah.

Kondisi geografis Pulau Palue menjadi salah satu tantangan dalam menghadirkan jaringan listrik ke Desa Lidi. Letak wilayah yang berada di kawasan kepulauan membuat pembangunan infrastruktur kelistrikan membutuhkan penanganan dan perencanaan khusus.

Bagi anak-anak, keterbatasan penerangan memiliki arti yang lebih panjang. Waktu malam yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk membaca buku, mengerjakan pekerjaan rumah, atau mempersiapkan pelajaran esok hari harus dijalani dengan cahaya pelita.

Namun, di tengah keterbatasan itu, kegiatan belajar tetap berlangsung. Cahaya kecil dari pelita menjadi penerang bagi buku-buku sekolah dan menjadi saksi bagaimana anak-anak Desa Lidi tetap berusaha belajar.

Persoalan listrik juga tidak berhenti pada kebutuhan penerangan. Akses terhadap listrik berkaitan dengan berbagai aktivitas masyarakat, termasuk pendidikan, komunikasi, kegiatan rumah tangga, dan aktivitas ekonomi. Karena itu, hadirnya infrastruktur energi dapat memberikan perubahan yang lebih luas bagi kehidupan warga.

Potret Desa Lidi menunjukkan bahwa pemerataan pembangunan masih menghadapi tantangan geografis di sejumlah wilayah Indonesia. Kemajuan teknologi dan digitalisasi pendidikan berjalan semakin cepat, tetapi pada saat yang sama masih terdapat anak-anak yang harus membuka buku di bawah cahaya pelita.

Bagi anak-anak Desa Lidi, sebuah lampu yang menyala bukan sekadar penerangan. Ia berarti kesempatan untuk membaca lebih lama, belajar lebih nyaman, dan membuka jalan menuju masa depan yang lebih luas.