PANDEGLANG, DeiJournal – Selama sepuluh hari, laut Selat Sunda menjadi ruang pencarian bagi tim SAR gabungan yang berupaya menemukan delapan orang yang hilang kontak saat menggunakan speedboat Arupadhatu 1 menuju kawasan Gunung Anak Krakatau. Lima di antaranya merupakan jurnalis, sementara tiga lainnya adalah kru kapal. Operasi tersebut akhirnya dihentikan setelah tim tidak menemukan tanda keberadaan para korban.
Rombongan berangkat dari Dermaga Pegadungan, Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB. Komunikasi terakhir tercatat pada hari yang sama. Sejak saat itu, tim SAR mulai melakukan penyisiran di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau dan wilayah Selat Sunda.
Operasi pencarian tidak hanya mengandalkan satu metode. Tim menggunakan kapal, helikopter, penyisiran pesisir, serta perhitungan pergerakan arus laut untuk menentukan kemungkinan lokasi benda atau korban terbawa arus. Area pencarian juga terus diperluas berdasarkan evaluasi kondisi laut dan temuan di lapangan.
Pada hari ketujuh, misalnya, Basarnas mengerahkan 18 kapal dan satu helikopter dengan wilayah pencarian mencapai sekitar 6.649 mil laut persegi. Penyisiran dilakukan dalam sejumlah sektor di perairan Selat Sunda, termasuk kawasan sekitar Gunung Anak Krakatau, Pulau Sertung, Pulau Rakata, Pulau Panjang, hingga wilayah pesisir Banten.
Laut tidak selalu memberikan petunjuk yang mudah dibaca. Kondisi cuaca menjadi salah satu tantangan utama. Kabut sempat menghambat pencarian melalui udara, sementara perubahan arah arus, angin, dan gelombang membuat wilayah pencarian harus terus diperhitungkan kembali. Pada beberapa hari, helikopter bahkan tidak dapat diterbangkan karena jarak pandang yang terbatas.
Sejumlah benda sempat ditemukan selama penyisiran. Pada hari kelima, tim SAR menemukan jeriken, helm, dan dua jaket di perairan sebelah selatan Gunung Anak Krakatau. Namun, temuan tersebut belum dapat dipastikan berkaitan dengan speedboat dan delapan orang yang dicari.
Salah satu informasi yang sempat memberikan harapan adalah terdeteksinya pancaran terakhir salah satu telepon seluler di sekitar Pulau Sebesi. Tim kemudian melakukan penyisiran di wilayah tersebut. Namun, lokasi itu tidak dapat memastikan keberadaan pemilik telepon karena yang terdeteksi merupakan pancaran terakhir perangkat, bukan pelacakan posisi secara langsung.
Memasuki hari kesepuluh, luas wilayah pencarian telah mencapai sekitar 8.509 mil laut persegi. Sebanyak 523 personel SAR gabungan terlibat dalam penyisiran melalui jalur laut, udara, dan darat. Meski pencarian dilakukan dengan cakupan yang luas, tim belum menemukan tanda yang dapat memastikan keberadaan korban maupun kapal.
Pada Kamis (17/9/2026), operasi SAR gabungan secara resmi dihentikan setelah berlangsung selama sepuluh hari. Pemerintah daerah dan Basarnas menyatakan pencarian dapat kembali dibuka apabila muncul petunjuk baru atau laporan masyarakat yang telah terkonfirmasi.
Peristiwa di Selat Sunda meninggalkan gambaran tentang bagaimana sebuah operasi pencarian di laut harus menghadapi ruang yang luas, perubahan cuaca, pergerakan arus, serta keterbatasan informasi mengenai posisi terakhir objek yang dicari.
Di balik peta pencarian, kapal-kapal yang terus bergerak dan helikopter yang menyisir dari udara, terdapat keluarga yang menunggu kabar. Bagi mereka, setiap benda yang ditemukan di laut bukan sekadar objek pencarian, melainkan kemungkinan sebuah jawaban.
Selat Sunda kembali menyimpan kisah tentang luasnya laut dan terbatasnya kemampuan manusia untuk membaca setiap jejak yang ditinggalkannya. Namun selama masih ada petunjuk, harapan untuk menemukan jawaban tetap terbuka.