JAKARTA, DeiJournal – Modal sering menjadi salah satu faktor penting ketika sebuah bisnis ingin berkembang. Perusahaan membutuhkan dana untuk membeli bahan baku, menambah persediaan, membuka cabang, membeli peralatan, merekrut tenaga kerja hingga melakukan ekspansi ke pasar baru.

Namun, mendapatkan modal melalui pinjaman atau pembiayaan tidak hanya soal berapa besar dana yang bisa diperoleh. Biaya pembiayaan juga menentukan seberapa besar beban yang harus ditanggung bisnis dan apakah ekspansi tersebut benar-benar menghasilkan keuntungan.

Bank Indonesia menilai pembiayaan memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi karena penyaluran kredit kepada dunia usaha dapat meningkatkan produktivitas, menciptakan lapangan kerja dan memperkuat daya saing.

Apa yang dimaksud biaya pembiayaan?

Secara sederhana, biaya pembiayaan adalah biaya yang harus ditanggung perusahaan ketika memperoleh dana dari pihak lain.

Dalam kredit perbankan, komponen utamanya biasanya berupa bunga. Namun, pelaku usaha juga perlu memperhitungkan biaya administrasi, provisi, biaya transaksi, asuransi atau biaya lain yang terkait dengan fasilitas pembiayaan.

Karena itu, jumlah uang yang diterima perusahaan tidak selalu sama dengan total biaya yang akhirnya harus dikembalikan.

Semakin tinggi biaya pembiayaan, semakin besar pula dana yang harus dialokasikan perusahaan untuk memenuhi kewajiban tersebut.

Mengapa biaya pembiayaan berpengaruh terhadap pertumbuhan bisnis?

Bayangkan sebuah perusahaan meminjam Rp1 miliar untuk memperluas usaha.

Dana tersebut digunakan untuk membeli mesin baru yang diharapkan meningkatkan kapasitas produksi. Jika mesin menghasilkan tambahan keuntungan yang jauh lebih besar daripada biaya pembiayaan, pinjaman tersebut dapat membantu pertumbuhan bisnis.

Sebaliknya, jika tambahan keuntungan terlalu kecil sementara bunga dan biaya lainnya cukup besar, perusahaan justru dapat mengalami tekanan terhadap arus kas.

Inilah sebabnya keputusan mengambil pembiayaan sebaiknya tidak hanya didasarkan pada “berapa besar uang yang bisa dipinjam”, tetapi juga “berapa biaya yang harus dibayar dan berapa manfaat ekonominya.”

Suku bunga menjadi salah satu faktor penting

Perubahan suku bunga dapat memengaruhi biaya pembiayaan, terutama bagi perusahaan yang menggunakan kredit dengan struktur bunga tertentu.

OJK mencatat rata-rata tertimbang suku bunga kredit rupiah pada Maret 2026 sebesar 8,76 persen, turun dari 8,80 persen pada Februari 2026 dan 9,20 persen pada Maret 2025. Menurut OJK, penurunan tersebut terutama terjadi pada kredit produktif, termasuk kredit modal kerja dan kredit investasi.

Perkembangan biaya kredit tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan perusahaan ketika menyusun rencana investasi maupun ekspansi.

Pembiayaan modal kerja berbeda dengan pembiayaan investasi

Kebutuhan pembiayaan perusahaan juga tidak selalu sama.

Kredit modal kerja dapat digunakan untuk mendukung kegiatan operasional sehari-hari, seperti membeli bahan baku, membiayai persediaan atau memenuhi kebutuhan kas sementara.

Sementara itu, kredit investasi biasanya berkaitan dengan kebutuhan jangka lebih panjang, seperti pembelian mesin, pembangunan fasilitas produksi atau ekspansi usaha.

Bank Indonesia mencatat pada Juni 2026 kredit investasi tumbuh 24,90 persen secara tahunan, sedangkan kredit modal kerja tumbuh 8,94 persen.

Perbedaan karakter tersebut membuat perusahaan perlu menyesuaikan jenis pembiayaan dengan tujuan penggunaan dan kemampuan membayar.

Jangan hanya melihat besarnya pinjaman

Salah satu risiko yang perlu diperhatikan pelaku usaha adalah mengambil pembiayaan terlalu besar dibandingkan kemampuan bisnis menghasilkan arus kas.

Pinjaman memang dapat mempercepat ekspansi. Tetapi kewajiban pembayaran tetap berjalan meskipun penjualan sedang turun.

Karena itu, sebelum mengambil pembiayaan, perusahaan idealnya menghitung beberapa hal:

  • berapa dana yang benar-benar dibutuhkan;
  • untuk apa dana tersebut digunakan;
  • berapa total biaya pembiayaan;
  • berapa tambahan pendapatan yang diharapkan;
  • berapa lama investasi menghasilkan keuntungan;
  • bagaimana kemampuan membayar cicilan ketika penjualan menurun.

Perhitungan tersebut penting terutama bagi bisnis yang memiliki pendapatan tidak stabil.

Akses pembiayaan UMKM masih menjadi perhatian

Persoalan pembiayaan juga menjadi perhatian besar bagi sektor UMKM.

OJK memproyeksikan kredit UMKM pada 2026 tumbuh 7–9 persen. Pada Januari 2026, kredit UMKM tercatat Rp1.482,9 triliun atau sekitar 17,33 persen dari total penyaluran kredit/pembiayaan.

OJK juga telah menerbitkan POJK Nomor 19 Tahun 2025 yang mengatur kemudahan akses pembiayaan bagi UMKM. Regulasi tersebut antara lain mendorong pembiayaan yang mudah, tepat, cepat, murah dan inklusif dengan tetap memperhatikan tata kelola serta manajemen risiko.

Artinya, persoalan pembiayaan bukan hanya mengenai tersedianya uang, tetapi juga bagaimana pembiayaan tersebut diberikan dengan struktur yang sesuai dengan karakter bisnis.

Pembiayaan yang murah belum tentu selalu paling tepat

Biaya yang rendah memang dapat membantu menekan beban perusahaan. Namun, pelaku usaha juga perlu melihat aspek lain seperti jangka waktu, fleksibilitas pembayaran, persyaratan agunan, risiko perubahan bunga dan kesesuaian pembiayaan dengan kebutuhan bisnis.

Pembiayaan jangka pendek untuk kebutuhan yang menghasilkan pendapatan dalam waktu lama, misalnya, dapat menciptakan tekanan arus kas.

Sebaliknya, pembiayaan yang terlalu panjang untuk kebutuhan yang sebenarnya dapat dilunasi dengan cepat juga dapat membuat total biaya menjadi lebih besar.

Karena itu, struktur pembiayaan sama pentingnya dengan besarnya bunga.

Pertumbuhan bisnis membutuhkan pembiayaan yang produktif

Bank Indonesia menekankan perlunya pergeseran dari sekadar mengejar pertumbuhan kredit menuju pembiayaan yang berkualitas dan produktif. Pada Juni 2026, pertumbuhan kredit perbankan mencapai 12,67 persen secara tahunan, sementara fasilitas pinjaman yang belum digunakan masih mencapai Rp2.490 triliun.

Bagi perusahaan, pesan pentingnya adalah bahwa utang sebaiknya diarahkan pada kegiatan yang memiliki potensi meningkatkan kapasitas usaha, produktivitas atau pendapatan.

Meminjam uang untuk membeli aset produktif tentu memiliki tujuan yang berbeda dengan meminjam untuk menutup kerugian operasional yang terus berulang.

Pada akhirnya, biaya pembiayaan menjadi salah satu komponen penting dalam menentukan kualitas pertumbuhan bisnis. Pembiayaan dapat menjadi alat untuk mempercepat ekspansi, tetapi juga dapat menjadi beban apabila jumlah dan strukturnya tidak sesuai dengan kemampuan perusahaan.

Karena itu, sebelum mengambil kredit atau pembiayaan, perusahaan perlu melihat bukan hanya berapa dana yang tersedia, tetapi juga berapa biaya yang harus dibayar dan seberapa besar manfaat ekonomi yang dapat dihasilkan dari dana tersebut.