JAKARTA, DeiJournal – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali bergerak menguat pada perdagangan Rabu (30/9/2026). Rupiah dibuka di level Rp17.925 per dolar AS, menguat 56 poin atau 0,31 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.981 per dolar AS.
Penguatan tersebut terjadi setelah rupiah sehari sebelumnya sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Pada Selasa (29/9), rupiah bahkan menyentuh sekitar Rp18.010 per dolar AS, yang menjadi level terlemah sejak awal Agustus.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa rupiah masih berada dalam tekanan meskipun pada perdagangan terbaru mulai mengalami penguatan.
Rupiah Sempat Tembus Rp18.000
Level Rp18.000 per dolar AS menjadi perhatian pelaku pasar karena merupakan batas psikologis penting bagi nilai tukar rupiah.
Reuters melaporkan pelemahan rupiah pada Selasa dipengaruhi oleh meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury. Imbal hasil Treasury 10 tahun bahkan berada di atas 5,27 persen, level tertinggi dalam sekitar 19 tahun.
Ketika imbal hasil aset AS meningkat, dolar cenderung menjadi lebih menarik bagi investor global. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain itu, kenaikan harga minyak dunia juga menjadi perhatian karena Indonesia masih membutuhkan impor minyak. Harga energi yang lebih tinggi dapat meningkatkan kebutuhan dolar untuk pembayaran impor.
Harga Minyak Mulai Memberikan Ruang bagi Rupiah
Pada perdagangan Rabu, tekanan tersebut sedikit mereda setelah harga minyak dunia mengalami penurunan.
ANTARA melaporkan harga minyak Brent turun sekitar 2,8 persen menjadi US$102,35 per barel, sementara minyak WTI turun sekitar 3,8 persen menjadi US$89 per barel. Penurunan tersebut terjadi setelah muncul perkembangan mengenai membaiknya pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Penurunan harga minyak dapat membantu mengurangi tekanan terhadap kebutuhan valuta asing Indonesia untuk membayar impor energi.
Analis Doo Financial Lukman Leong menilai kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membantu rupiah menguat pada pembukaan perdagangan Rabu.
Bank Indonesia Terus Menjaga Stabilitas Rupiah
Bank Indonesia juga tetap melakukan intervensi di pasar valuta asing.
Menurut pejabat Bank Indonesia, intervensi dilakukan secara konsisten untuk menjaga stabilitas rupiah. Langkah tersebut dilakukan ketika tekanan terhadap mata uang domestik meningkat.
Reuters juga melaporkan bahwa Bank Indonesia meningkatkan pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder selama September untuk menambah likuiditas di sistem keuangan. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi pasar keuangan dan stabilitas ekonomi.
Dengan demikian, pergerakan rupiah saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi ekonomi domestik, tetapi juga oleh kebijakan moneter dan perkembangan pasar keuangan global.
Pergerakan Rupiah September Menunjukkan Tekanan
Data perdagangan USD/IDR menunjukkan rupiah mengalami pelemahan cukup signifikan sepanjang September.
Pada 1 September, dolar AS berada di sekitar Rp17.715. Pada 29 September, nilai tersebut telah berada di sekitar Rp17.969 berdasarkan data pasar, dengan level tertinggi harian mencapai Rp18.037.
Artinya, dalam waktu kurang dari satu bulan, rupiah menghadapi tekanan cukup besar terhadap dolar AS.
Meski demikian, pergerakan harian tidak selalu menunjukkan arah jangka panjang karena nilai tukar dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti arus modal, suku bunga global, harga komoditas, kondisi geopolitik dan kebijakan bank sentral.
Apa Dampaknya bagi Masyarakat?
Pelemahan rupiah terhadap dolar dapat memberikan dampak berbeda bagi masyarakat dan dunia usaha.
Bagi perusahaan yang menggunakan bahan baku atau produk impor, dolar yang lebih mahal dapat meningkatkan biaya produksi. Jika biaya tersebut diteruskan kepada konsumen, harga barang dapat ikut meningkat.
Sektor yang memiliki kewajiban pembayaran dalam dolar juga menghadapi risiko nilai tukar yang lebih besar.
Sebaliknya, eksportir dapat memperoleh penerimaan rupiah yang lebih besar ketika pendapatan mereka berasal dari dolar AS, meskipun dampaknya tetap bergantung pada struktur biaya dan kondisi masing-masing perusahaan.
Bagi masyarakat, perubahan kurs dapat terasa pada harga sejumlah produk impor, biaya perjalanan ke luar negeri, pendidikan di luar negeri serta berbagai transaksi yang menggunakan dolar AS.
Pasar Masih Menunggu Perkembangan Global
Tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya hilang.
Pergerakan imbal hasil Treasury AS, arah kebijakan Federal Reserve, harga minyak serta perkembangan geopolitik global masih menjadi faktor yang dapat memengaruhi arus modal ke negara-negara berkembang.
Karena itu, penguatan rupiah ke Rp17.925 pada pembukaan perdagangan Rabu belum dapat diartikan sebagai berakhirnya tekanan terhadap mata uang domestik.
Pelaku pasar masih akan mencermati apakah penguatan tersebut dapat bertahan hingga penutupan perdagangan dan bagaimana perkembangan pasar global berikutnya.
Untuk perdagangan Rabu, analis memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran sekitar Rp17.925–Rp18.025 per dolar AS.
Rupiah dan Ekonomi Indonesia
Pergerakan kurs menjadi salah satu indikator penting dalam perekonomian karena berkaitan dengan perdagangan internasional, inflasi, investasi dan biaya pembiayaan.
Namun, nilai tukar rupiah tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya indikator untuk menilai kondisi ekonomi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi, inflasi, konsumsi rumah tangga, investasi, ekspor-impor dan kondisi sektor keuangan juga perlu dilihat secara bersamaan.
Untuk saat ini, rupiah masih berada di sekitar level Rp18.000 per dolar AS. Penguatan pada pembukaan perdagangan Rabu memberikan sedikit ruang, tetapi tekanan eksternal masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan.