JAKARTA, DeiJournal – Perubahan besar sedang berlangsung di industri otomotif Indonesia. Kendaraan listrik tidak lagi sekadar menjadi produk alternatif di ruang pamer, tetapi mulai mengambil porsi yang semakin besar dalam pasar kendaraan nasional. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) menunjukkan porsi mobil berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) mencapai sekitar 15,6 persen dari pasar mobil pada Maret 2026, meningkat dibandingkan 0,1 persen pada 2021.

Perubahan tersebut juga terlihat dari perkembangan produk yang ditawarkan kepada konsumen. Jumlah model BEV yang tersedia di Indonesia telah meningkat menjadi sekitar 74 model, dibandingkan hanya 11 model pada 2021. Pilihan konsumen kini tidak lagi terbatas pada satu atau dua jenis kendaraan, tetapi mulai mencakup berbagai segmen, termasuk SUV dan MPV.

Pertumbuhan pasar kemudian diikuti oleh pembangunan kapasitas produksi di dalam negeri. Kementerian Perindustrian mencatat terdapat 14 perusahaan yang telah berinvestasi pada sektor perakitan mobil listrik dengan total kapasitas produksi mencapai 409.860 unit per tahun. Nilai investasi sektor tersebut mencapai sekitar Rp24,13 triliun.

Angka tersebut menunjukkan bahwa transformasi kendaraan listrik tidak hanya terjadi pada sisi penjualan. Indonesia sedang membangun ekosistem manufaktur baru yang mencakup pabrik kendaraan, komponen, baterai, hingga rantai pasok pendukung.

Dari pasar menjadi basis produksi

Tantangan berikutnya adalah memastikan investasi kendaraan listrik tidak berhenti pada aktivitas perakitan. Pemerintah telah menetapkan peta jalan peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) kendaraan listrik, dengan target minimum 40 persen hingga 2026, 60 persen pada periode 2027–2029, dan 80 persen mulai 2030.

Target tersebut penting karena perubahan teknologi kendaraan juga berarti perubahan struktur industri. Mesin pembakaran internal memiliki rantai pasok yang berbeda dengan kendaraan listrik. Komponen seperti mesin, transmisi, sistem bahan bakar, dan knalpot secara bertahap akan berhadapan dengan kebutuhan baru berupa baterai, motor listrik, sistem manajemen baterai, elektronika daya, dan perangkat lunak.

Dengan demikian, pertanyaan mengenai kesiapan industri bukan hanya tentang berapa banyak mobil listrik yang dapat diproduksi, tetapi juga seberapa besar nilai tambah dari produksi tersebut yang dapat dinikmati industri nasional.

Konsumen mulai berubah

Dari sisi konsumen, salah satu perubahan penting adalah semakin kecilnya jarak harga antara kendaraan listrik dan kendaraan bermesin pembakaran internal. GAIKINDO mencatat harga sejumlah kendaraan listrik kini telah masuk ke kisaran Rp300 juta bahkan di bawahnya. Pada saat yang sama, peningkatan jarak tempuh baterai dan bertambahnya pilihan model ikut mendorong minat terhadap kendaraan listrik.

Pertumbuhan pasar juga terlihat dalam data penjualan terbaru. Pada Agustus 2026, GAIKINDO mencatat penjualan whole sales mobil nasional sebanyak 81.756 unit. Di segmen kendaraan listrik dan hibrida, sejumlah merek asal China mencatat penjualan yang signifikan, dengan BYD misalnya membukukan 7.870 unit secara whole sales pada bulan tersebut.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa peta persaingan otomotif Indonesia mulai berubah. Produsen yang sebelumnya tidak memiliki sejarah panjang dalam industri otomotif nasional kini dapat masuk melalui teknologi elektrifikasi dan menawarkan produk dengan pendekatan harga maupun teknologi yang berbeda.

Infrastruktur dan industri pendukung

Transformasi kendaraan listrik tentu tidak cukup hanya dengan membangun pabrik mobil. Infrastruktur pengisian daya, layanan purnajual, teknisi, daur ulang baterai, serta ketersediaan komponen juga menjadi bagian dari ekosistem yang harus berkembang secara bersamaan.

Indonesia memiliki keuntungan berupa sumber daya mineral yang menjadi bahan penting dalam rantai pasok baterai. Sejumlah pengamat menilai perkembangan kendaraan listrik dapat menjadi momentum untuk memperdalam hilirisasi mineral dan memperkuat industri baterai nasional. Namun, tantangannya adalah memastikan kemampuan teknologi dan manufaktur domestik berkembang bersama peningkatan permintaan kendaraan listrik.

Di sisi lain, kebijakan pemerintah akan menjadi salah satu faktor yang menentukan kecepatan transisi. Insentif, aturan impor, TKDN, perpajakan, serta kebijakan kendaraan listrik dapat memengaruhi keputusan produsen sekaligus harga yang harus dibayar konsumen.

Pada Agustus 2026, Menteri Keuangan menyampaikan bahwa pemerintah tengah menyiapkan stimulus kendaraan listrik baru, termasuk untuk mobil dan sepeda motor listrik. Rencana tersebut menunjukkan bahwa kebijakan fiskal masih menjadi salah satu instrumen yang digunakan untuk mendorong perkembangan pasar kendaraan listrik.

Industri otomotif memasuki babak baru

Perubahan ini bahkan mulai terlihat pada pameran otomotif di daerah. GIIAS Semarang 2026, yang dijadwalkan berlangsung 30 September–4 Oktober, akan diikuti 19 merek kendaraan. Dari 18 merek mobil yang berpartisipasi, 12 di antaranya membawa mobil listrik, sementara enam lainnya merupakan merek mobil konvensional.

Komposisi tersebut memberikan gambaran mengenai arah industri. Kendaraan listrik semakin ditempatkan sebagai bagian utama dari strategi produsen, bukan lagi sekadar pelengkap portofolio.

Namun, transformasi industri tidak selalu berarti kendaraan bermesin konvensional akan hilang dalam waktu singkat. Untuk sementara, pasar Indonesia masih menjadi ruang bagi berbagai teknologi—ICE, hybrid, plug-in hybrid, hingga BEV. GAIKINDO sendiri menggambarkan perkembangan tersebut sebagai perubahan dari industri yang sebelumnya didominasi satu jenis powertrain menuju pasar dengan berbagai teknologi penggerak.

Pada akhirnya, kesiapan industri otomotif Indonesia menghadapi era kendaraan listrik dapat dilihat dari beberapa sisi sekaligus: kemampuan produksi, kedalaman komponen lokal, pengembangan baterai, infrastruktur pengisian, kualitas sumber daya manusia, teknologi, dan kemampuan industri nasional menangkap nilai tambah.

Kendaraan listrik mungkin menjadi wajah baru otomotif Indonesia. Tetapi tantangan sesungguhnya bukan sekadar membuat masyarakat membeli mobil listrik. Tantangannya adalah memastikan perubahan tersebut ikut melahirkan industri nasional yang lebih kuat, rantai pasok yang lebih dalam, serta kemampuan teknologi yang semakin mandiri.