JAKARTA, DeiJournal – Influenza kembali menjadi perhatian di Indonesia setelah Kementerian Kesehatan mencatat peningkatan aktivitas influenza pada September 2026. Namun, pemerintah menegaskan bahwa kondisi saat ini masih berada dalam rentang kewaspadaan dan belum menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan.
Perhatian masyarakat juga tertuju pada Influenza A(H3N2) subclade K, yang di media sosial dan sejumlah pemberitaan populer sering disebut sebagai “super flu”. Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa istilah tersebut bukan nomenklatur resmi WHO maupun Kemenkes. Subclade K merupakan bagian dari virus influenza musiman A(H3N2) yang mengalami perubahan genetik.
Kasus Influenza Sedang Meningkat
Berdasarkan pemantauan Kemenkes hingga minggu ke-38 tahun 2026, aktivitas influenza di Indonesia berada pada kategori medium pada surveilans puskesmas, sementara aktivitas pada surveilans rumah sakit masih berada pada kategori rendah.
Pada surveilans sentinel, dari 265 spesimen yang diperiksa pada minggu ke-37, sebanyak 148 spesimen positif influenza. Dari hasil tersebut, 135 merupakan Influenza A(H1N1)pdm09, sembilan A(H3N2), dan empat Influenza B Victoria.
Data tersebut penting karena menunjukkan bahwa virus influenza yang paling dominan saat ini bukan H3N2 subclade K, melainkan A(H1N1)pdm09. Kemenkes juga menyatakan bahwa jumlah temuan subclade K pada 2026 jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Bagaimana dengan H3N2 Subclade K?
Subclade K pertama kali teridentifikasi pada 2025 dan merupakan salah satu cabang genetik dari Influenza A(H3N2). WHO mencatat bahwa virus tersebut menyebar di berbagai negara setelah muncul pada 2025.
Di Indonesia, surveilans Kemenkes mencatat 188 temuan H3N2 subclade K secara kumulatif sejak 2025 hingga minggu ke-37/38 2026, yang tersebar di 20 provinsi. Provinsi dengan jumlah temuan terbanyak antara lain DKI Jakarta, Jawa Timur dan Kalimantan Selatan.
Namun, angka tersebut perlu dibaca secara hati-hati karena mencakup periode lebih dari satu tahun.
Untuk tahun 2026 saja, Kemenkes mencatat 22 kasus H3N2 subclade K hingga minggu ke-38. Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibandingkan 166 kasus yang tercatat sepanjang 2025. Kemenkes juga menyebut tidak terdapat penambahan kasus subclade K sejak April 2026.
Apakah “Super Flu” Lebih Berbahaya?
Istilah “super flu” dapat menimbulkan kesan bahwa virus tersebut merupakan influenza baru yang jauh lebih mematikan. Data yang tersedia tidak mendukung kesimpulan tersebut.
Kemenkes sebelumnya menyatakan bahwa H3N2 subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan dibandingkan subclade atau clade influenza lainnya. WHO juga menyebut data epidemiologis yang tersedia tidak menunjukkan peningkatan keparahan penyakit akibat subclade K.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak menilai risiko hanya berdasarkan istilah “super flu”.
Yang lebih penting adalah mengenali gejala, memperhatikan kelompok yang memiliki risiko komplikasi dan mencari pertolongan medis apabila kondisi memburuk.
Apa Gejala Influenza A?
Secara umum, gejala influenza dapat muncul secara tiba-tiba. WHO menyebut gejala yang umum meliputi:
- demam;
- batuk, biasanya kering;
- sakit kepala;
- nyeri otot dan persendian;
- sakit tenggorokan;
- pilek;
- rasa lelah atau tidak enak badan.
Batuk akibat influenza juga dapat berlangsung selama dua minggu atau lebih.
Gejala tersebut tidak secara khusus menunjukkan seseorang terkena H3N2 subclade K. Untuk mengetahui jenis virus yang menginfeksi seseorang, diperlukan pemeriksaan laboratorium.
Siapa yang Perlu Lebih Waspada?
Sebagian besar orang yang terkena influenza dapat pulih dalam waktu sekitar satu minggu. Namun, influenza dapat menyebabkan komplikasi serius pada kelompok tertentu.
WHO memasukkan anak di bawah lima tahun, lansia, ibu hamil dan orang dengan penyakit kronis seperti penyakit jantung, paru, ginjal, diabetes serta kondisi yang menyebabkan daya tahan tubuh menurun sebagai kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit berat.
Kelompok tersebut perlu mendapatkan perhatian lebih apabila mengalami gejala influenza.
Tidak Semua Influenza Membutuhkan Oseltamivir
Meningkatnya perhatian terhadap influenza juga memunculkan kekhawatiran mengenai penggunaan obat antivirus, khususnya oseltamivir.
Kemenkes mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembelian atau penggunaan oseltamivir secara sembarangan. Obat antivirus tersebut tidak ditujukan untuk semua orang yang mengalami flu.
Menurut Kemenkes, penggunaannya perlu dipertimbangkan terutama pada pasien dengan kondisi berat atau pasien dengan komorbid yang membutuhkan antivirus. Pembatasan tersebut juga berkaitan dengan risiko munculnya resistansi terhadap obat antivirus.
WHO juga merekomendasikan antivirus terutama bagi kelompok berisiko tinggi mengalami penyakit berat, dan efektivitasnya paling baik apabila diberikan sedini mungkin, idealnya dalam 48 jam sejak gejala muncul.
Antibiotik juga tidak dapat digunakan untuk mengobati influenza, karena influenza disebabkan oleh virus, bukan bakteri.
Bagaimana Mencegah Penularannya?
Influenza dapat menyebar melalui partikel pernapasan ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin. Risiko penularan dapat meningkat di lingkungan yang padat.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
Pertama, menggunakan masker ketika sedang sakit atau berada di tempat ramai.
Kedua, menerapkan etika batuk dan bersin dengan menutup mulut serta hidung.
Ketiga, mencuci tangan secara rutin.
Keempat, beristirahat di rumah ketika sedang sakit untuk mengurangi risiko menularkan virus kepada orang lain.
Kelima, mempertimbangkan vaksinasi influenza, terutama bagi kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi. WHO menyebut vaksinasi sebagai salah satu cara terbaik untuk mencegah influenza dan mengurangi risiko penyakit berat.
Kapan Harus ke Dokter?
Tidak semua demam dan batuk berarti seseorang mengalami influenza A. Berbagai infeksi saluran pernapasan dapat menimbulkan gejala yang serupa.
Namun, pemeriksaan medis diperlukan apabila gejala semakin berat, terutama jika muncul kesulitan bernapas, nyeri dada, penurunan kesadaran, kelemahan berat atau kondisi memburuk setelah sempat membaik.
Kelompok rentan seperti anak kecil, lansia, ibu hamil dan orang dengan penyakit kronis juga sebaiknya mendapatkan perhatian medis lebih cepat ketika mengalami gejala influenza.
Dengan demikian, peningkatan aktivitas influenza di Indonesia memang perlu diperhatikan, tetapi tidak perlu disikapi dengan kepanikan.
Data terbaru Kemenkes menunjukkan aktivitas influenza meningkat, sementara kondisi secara nasional masih berada dalam rentang kewaspadaan. H3N2 subclade K juga bukan virus influenza baru, dan jumlah temuan pada 2026 justru jauh lebih rendah dibandingkan 2025.
Yang paling penting adalah mengenali gejala, menjaga kebersihan, melindungi kelompok rentan dan memeriksakan diri apabila kondisi memburuk.