JAKARTA, DeiJournal – Indonesia kembali menegaskan dukungannya terhadap rakyat Palestina dengan berkomitmen menyumbang USD1,2 juta atau sekitar Rp21,4 miliar kepada Badan Bantuan dan Pekerjaan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA).
Komitmen tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Sugiono dalam forum tingkat menteri untuk mendukung UNRWA di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat, Jumat (25/9) waktu setempat.
Sugiono mengatakan kontribusi tersebut merupakan kelanjutan dukungan tahunan Indonesia kepada UNRWA. Di tengah tekanan finansial dan tantangan politik yang dihadapi badan PBB tersebut, Indonesia menilai keberlanjutan dukungan menjadi penting.
“Komitmen Indonesia tetap teguh dan konsisten, dan tahun ini kami akan melanjutkan kontribusi tahunan sebesar USD1,2 juta dolar kepada UNRWA,” kata Sugiono.
Menurut Indonesia, keberadaan UNRWA masih dibutuhkan jutaan pengungsi Palestina yang bergantung pada layanan dan bantuan kemanusiaan. Karena itu, Indonesia mendorong agar UNRWA dapat menjalankan mandatnya secara penuh dan efektif.
Dalam forum tersebut, Sugiono juga menyoroti pengambilalihan Pusat Pelatihan Kalandia milik UNRWA di Yerusalem Timur oleh tentara Israel pada Agustus lalu. Menurut keterangan pemerintah, sekitar 20 staf UNRWA diusir secara paksa dari lokasi tersebut.
Pusat pelatihan yang berdiri sejak 1952 itu memiliki fungsi sebagai fasilitas pendidikan teknis dan kejuruan bagi pengungsi muda Palestina. Indonesia menilai tindakan terhadap fasilitas tersebut berpotensi mengganggu operasional UNRWA.
“Tindakan ini menghambat operasional badan tersebut dan melanggar prinsip inviolabilitas properti PBB berdasarkan hukum internasional. Hal ini tidak boleh dibiarkan terus terjadi,” tegas Sugiono.
Indonesia juga menyerukan negara-negara lain meningkatkan dukungan terhadap UNRWA. Sugiono menilai dukungan finansial perlu berjalan bersama penghormatan terhadap mandat lembaga tersebut agar layanan bagi pengungsi Palestina tetap dapat diberikan.
“Indonesia akan terus berdiri bersama UNRWA dan mendukung mandat yang diamanatkan kepada UNRWA,” imbuhnya.
Isu Palestina sendiri menjadi salah satu agenda utama delegasi Indonesia dalam rangkaian High-Level Week Sidang Majelis Umum PBB 2026. Selain UNRWA, Indonesia membawa isu penghentian kekerasan, bantuan kemanusiaan, pemulihan Gaza, dan penyelesaian konflik melalui Solusi Dua Negara.
Pada Senin (21/9), Sugiono menghadiri pertemuan Group of Eight yang beranggotakan Indonesia, Qatar, Türkiye, Mesir, Yordania, Pakistan, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Indonesia mendorong negara-negara tersebut menjaga kesamaan pesan dan momentum diplomatik dalam mengupayakan perdamaian Palestina.
Sehari kemudian, delegasi Indonesia menghadiri pertemuan tingkat tinggi bertajuk The Road Ahead: One Year After the New York Declaration. Indonesia termasuk dalam 142 negara yang mendukung Deklarasi New York yang menjadi salah satu rujukan internasional dalam mendorong penyelesaian Palestina melalui Solusi Dua Negara.
Pada Rabu (23/9), Indonesia juga mengikuti forum pemulihan awal Gaza. Dalam forum tersebut, Sugiono menekankan pentingnya penghentian kekerasan, gencatan senjata, serta akses bantuan kemanusiaan sebagai bagian dari upaya memulihkan kehidupan warga Gaza.
Sugiono menegaskan pemulihan layanan dasar, infrastruktur, dan penghidupan masyarakat Gaza tidak dapat ditunda. Ia juga menyatakan rekonstruksi Gaza harus berorientasi pada kepemimpinan dan kepemilikan rakyat Palestina.
“Bagi rakyat Gaza, perdamaian harus berarti lebih dari sekadar tidak adanya kekerasan. Mereka harus dapat membangun kembali kehidupan yang layak dan bermartabat,” ujar Sugiono.