JAKARTA, DeiJournal – Indonesia semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat infrastruktur digital di Asia Tenggara. Hingga September 2026, Indonesia tercatat memiliki 204 fasilitas data center, menempatkannya di posisi keempat di Asia berdasarkan jumlah fasilitas dan menjadi pasar data center terbesar di Asia Tenggara.

Pertumbuhan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan penyimpanan data. Meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat kebutuhan terhadap pusat data dengan kapasitas komputasi besar ikut meningkat.

AI generatif, layanan cloud, aplikasi digital, sistem analitik perusahaan hingga berbagai layanan berbasis agen AI membutuhkan infrastruktur komputasi yang jauh lebih besar dibandingkan aplikasi digital konvensional.

Data Center Menjadi Infrastruktur Strategis

Selama beberapa tahun terakhir, pembangunan data center di Indonesia semakin menarik perhatian perusahaan teknologi dan investor.

Pertumbuhan ekonomi digital, jumlah pengguna internet yang besar serta meningkatnya kebutuhan komputasi AI menjadi sejumlah faktor yang mendorong investasi tersebut.

Perkembangan ini juga terlihat dari pembangunan pusat data berskala besar. Salah satunya adalah rencana BDx Indonesia membangun kompleks pusat data AI dengan kapasitas hingga 640 MW di Purwakarta. Infrastruktur tersebut ditujukan untuk mendukung kebutuhan perusahaan, pemerintah dan pengembang yang menjalankan beban kerja AI tingkat lanjut di dalam negeri.

Besarnya kapasitas tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan komputasi AI tidak lagi dipandang sebagai kebutuhan khusus perusahaan teknologi saja.

Industri keuangan, manufaktur, kesehatan, perdagangan, pemerintahan hingga perusahaan rintisan juga mulai membutuhkan infrastruktur komputasi yang mampu memproses data dalam jumlah besar.

Persaingan AI Membutuhkan Infrastruktur

Perkembangan AI membuat persaingan teknologi global tidak hanya terjadi pada siapa yang memiliki model AI terbaik.

Persaingan juga terjadi pada siapa yang memiliki chip, pusat data, jaringan internet, energi dan talenta untuk menjalankan teknologi tersebut.

Hal tersebut membuat pembangunan data center menjadi bagian penting dari ekosistem AI.

Tanpa infrastruktur yang memadai, perusahaan mungkin harus bergantung pada pusat data di luar negeri. Ketergantungan tersebut dapat menimbulkan persoalan terkait biaya, latensi, keamanan data dan kebutuhan kepatuhan terhadap regulasi.

Karena itu, semakin banyak kapasitas komputasi yang tersedia di Indonesia dapat membuka peluang bagi pengembangan layanan digital yang diproses lebih dekat dengan pengguna Indonesia.

Samsung Juga Masuk ke Infrastruktur AI

Perhatian terhadap infrastruktur AI juga terlihat dari investasi perusahaan teknologi besar.

Samsung melalui unit bisnisnya dilaporkan sepakat menginvestasikan sekitar US$1 miliar atau sekitar Rp18 triliun pada Helix Digital Infrastructure di Amerika Serikat. Helix sendiri dikembangkan sebagai perusahaan yang menyediakan infrastruktur untuk kebutuhan rantai nilai pengembangan AI.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa investasi AI telah bergerak jauh melampaui pengembangan aplikasi.

Infrastruktur fisik yang menopang AI kini menjadi bagian penting dari rantai industri teknologi global.

Tantangan Terbesar Ada pada Energi

Semakin besar pusat data, semakin besar pula kebutuhan listriknya.

Data center harus beroperasi selama 24 jam dan membutuhkan sistem pendingin serta cadangan energi untuk memastikan layanan tetap berjalan.

Karena itu, pertumbuhan pusat data Indonesia juga menimbulkan pertanyaan mengenai ketersediaan energi dan dampak lingkungan.

Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) bahkan mendorong pembangunan data center yang memperhatikan aspek lingkungan melalui penerapan prinsip green data center, termasuk efisiensi energi, pengelolaan lingkungan dan pemanfaatan energi baru terbarukan.

Persoalan energi menjadi semakin penting ketika beban komputasi AI terus meningkat.

Peluang bagi Indonesia

Pertumbuhan data center dapat memberikan sejumlah peluang ekonomi.

Pertama, Indonesia dapat menarik investasi teknologi dalam jumlah lebih besar.

Kedua, kebutuhan terhadap tenaga profesional seperti data engineer, cloud engineer, cybersecurity specialist dan AI engineer juga berpotensi meningkat.

Ketiga, perusahaan lokal dapat memperoleh akses terhadap infrastruktur komputasi yang lebih dekat dengan pasar domestik.

Keempat, pemerintah dan perusahaan dapat mengembangkan lebih banyak layanan digital yang membutuhkan pemrosesan data dalam jumlah besar.

Namun, manfaat tersebut tidak otomatis muncul hanya karena jumlah data center bertambah.

Indonesia juga perlu memperkuat ekosistem pendukungnya.

Bukan Sekadar Banyak Data Center

Jumlah fasilitas data center memang menjadi salah satu indikator penting. Namun, kapasitas, kualitas konektivitas, sumber energi, keamanan, efisiensi dan kemampuan memanfaatkan infrastruktur tersebut juga menentukan nilai ekonominya.

Indonesia juga membutuhkan talenta yang mampu mengembangkan teknologi di atas infrastruktur tersebut.

Tanpa tenaga ahli dan perusahaan lokal yang mampu memanfaatkan kapasitas komputasi, Indonesia berisiko hanya menjadi lokasi infrastruktur sementara nilai tambah terbesar tetap berada di luar negeri.

Karena itu, pembangunan data center perlu berjalan bersamaan dengan pengembangan AI, cloud computing, keamanan siber, pendidikan teknologi dan industri digital lokal.

Dari Pasar Digital Menjadi Pemilik Infrastruktur

Selama bertahun-tahun Indonesia dikenal sebagai salah satu pasar digital terbesar di kawasan.

Kini tantangannya mulai bergeser.

Indonesia tidak hanya perlu menjadi pengguna layanan digital, tetapi juga membangun kapasitas untuk menjadi pencipta dan pemilik infrastruktur digital.

Pertumbuhan 204 fasilitas data center menunjukkan arah tersebut mulai terbentuk. Namun, perjalanan berikutnya akan ditentukan oleh kemampuan Indonesia menghubungkan investasi infrastruktur dengan industri, talenta dan inovasi teknologi domestik.

Jika pembangunan tersebut berjalan bersama, data center bukan hanya menjadi tempat menyimpan dan memproses data, tetapi dapat menjadi salah satu fondasi baru bagi ekonomi digital Indonesia.