JAKARTA, DeiJournal – Indonesia sedang berada di tengah perubahan besar ekonomi digital. Jumlah pengguna internet yang besar, pertumbuhan transaksi digital, perkembangan kecerdasan artifisial (AI), serta masuknya investasi pada pusat data membuat Indonesia menjadi salah satu pasar digital terbesar di kawasan. Namun, pertumbuhan pasar saja belum cukup. Pertanyaan yang semakin penting adalah: seberapa besar nilai ekonomi digital tersebut benar-benar diciptakan dan tinggal di Indonesia?
Kementerian Komunikasi dan Digital menyebut nilai ekonomi digital Indonesia telah mencapai sekitar US$100 miliar dan diproyeksikan meningkat hingga US$360 miliar pada 2030. Pemerintah kini mendorong perubahan posisi Indonesia dari sekadar konsumen teknologi menjadi negara yang mampu menciptakan dan memiliki nilai dalam ekosistem digital.
Pasar besar bukan berarti penguasaan teknologi
Besarnya jumlah pengguna internet memang menjadi modal penting. Indonesia memiliki sekitar 220 juta pengguna internet dan merupakan salah satu pasar digital terbesar di Asia Tenggara. Tetapi jumlah pengguna tidak otomatis membuat sebuah negara menguasai teknologi.
Nilai terbesar dalam ekonomi digital justru berada pada lapisan di balik aplikasi yang digunakan sehari-hari: infrastruktur, pusat data, komputasi, perangkat keras, semikonduktor, sistem operasi, platform, kecerdasan artifisial, hingga kepemilikan kekayaan intelektual.
Karena itu, pemerintah mulai mendorong strategi agar nilai ekonomi digital tidak hanya mengalir kepada perusahaan teknologi global, tetapi juga menciptakan industri dan kapasitas domestik.
Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi Fifi Aleyda Yahya kembali menegaskan hal tersebut dalam ANTARA Business Forum 2026 pada 23 September 2026. Menurut pemerintah, Indonesia perlu membangun kapasitas digital domestik melalui sinergi antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat.
AI membuka peluang baru
Perubahan paling besar saat ini datang dari perkembangan artificial intelligence (AI).
AI membutuhkan infrastruktur dalam skala besar. Pusat data, energi, jaringan internet, komputasi, talenta teknologi, hingga berbagai jenis material menjadi bagian dari rantai industri baru tersebut.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan Indonesia tidak cukup hanya menjadi pengguna AI. Indonesia perlu mengambil posisi strategis dalam rantai industri AI global. Salah satu peluang yang disebut adalah pengembangan material yang dibutuhkan industri semikonduktor.
Indonesia memiliki sejumlah sumber daya seperti nikel, timah, tembaga, emas, dan pasir silika. Namun, kepemilikan bahan mentah belum otomatis berarti penguasaan teknologi.
Persoalannya justru berada pada kemampuan mengolah sumber daya tersebut menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Dalam industri semikonduktor, misalnya, pemerintah menyebut Indonesia memiliki cadangan pasir silika dalam jumlah besar, tetapi masih menghadapi tantangan dalam mengolahnya menjadi material seperti silicon wafer yang dibutuhkan industri semikonduktor.
Di sinilah tantangan ekonomi digital Indonesia menjadi lebih kompleks. Persoalannya bukan sekadar bagaimana memperbanyak pengguna aplikasi, melainkan bagaimana Indonesia masuk ke bagian rantai produksi yang menghasilkan nilai ekonomi lebih besar.
Pusat data dan infrastruktur menjadi fondasi
Pertumbuhan AI juga membuat kebutuhan terhadap pusat data meningkat.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyebut pengembangan data center, talenta digital, dan teknologi semikonduktor sebagai bagian penting dalam memperkuat daya saing Indonesia. Pemerintah juga melihat ekonomi digital dan AI sebagai salah satu pengungkit pertumbuhan ekonomi ke depan.
Komdigi juga menyatakan bahwa pengembangan infrastruktur digital harus dilakukan secara terintegrasi, mencakup konektivitas, pusat data, energi, keamanan, dan sumber daya manusia.
Artinya, membangun ekonomi digital tidak cukup dengan menyediakan koneksi internet. Negara juga membutuhkan infrastruktur fisik dan manusia yang mampu menopang teknologi tersebut.
Tantangan terbesar: talenta dan inovasi
Teknologi membutuhkan manusia.
Pengembangan startup, perusahaan teknologi, peneliti, programmer, insinyur, dan tenaga profesional digital menjadi bagian penting dari perubahan tersebut.
Salah satu program pemerintah, Garuda Spark Innovation Hub, sepanjang 10 bulan telah menjangkau lebih dari 15.700 talenta digital, membina 80 startup dan menghimpun investasi langsung lebih dari Rp429,5 miliar. Program tersebut dirancang untuk memperluas akses terhadap pengetahuan teknologi, jejaring, modal, dan pasar.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pengembangan ekosistem digital tidak hanya berkaitan dengan perusahaan besar. Startup dan talenta lokal juga menjadi bagian penting dari upaya membangun kapasitas teknologi nasional.
Namun, tantangannya adalah bagaimana program-program tersebut menghasilkan perusahaan dan teknologi yang mampu bertahan dalam jangka panjang, bukan sekadar menghasilkan jumlah peserta atau aplikasi baru.
UMKM jangan hanya menjadi pengguna platform
Ekonomi digital juga memiliki dimensi yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Digitalisasi memungkinkan UMKM, petani, nelayan, dan produsen kecil mengakses pasar yang sebelumnya sulit mereka jangkau. Pemerintah menilai teknologi seharusnya membantu meningkatkan produktivitas sekaligus memperbesar bagian keuntungan yang diterima pelaku usaha di dalam negeri.
Di sisi lain, ketergantungan pada platform juga perlu diperhatikan. Pelaku usaha yang sepenuhnya bergantung pada platform pihak lain tetap memiliki keterbatasan dalam mengendalikan data, teknologi, distribusi, dan hubungan dengan konsumennya.
Karena itu, transformasi digital idealnya tidak berhenti pada “UMKM masuk marketplace”, tetapi berkembang menuju kemampuan UMKM menggunakan teknologi untuk membangun merek, mengelola data pelanggan, meningkatkan produktivitas, dan menjangkau pasar secara lebih mandiri.
Indonesia perlu menentukan posisi
Persaingan ekonomi digital global tidak hanya terjadi antarperusahaan. Negara-negara juga berlomba membangun ekosistem teknologi masing-masing.
Indonesia tidak harus menguasai seluruh rantai teknologi global. Bahkan pemerintah sendiri melihat bahwa Indonesia dapat memilih sektor-sektor strategis tertentu yang memiliki peluang untuk dikuasai dan dikembangkan.
Pilihan tersebut dapat mencakup pusat data, layanan cloud, AI, keamanan siber, material semikonduktor, pengembangan perangkat lunak, teknologi finansial, hingga berbagai aplikasi yang menyelesaikan persoalan domestik.
Yang penting adalah memastikan bahwa Indonesia tidak berhenti sebagai tempat berkumpulnya konsumen teknologi.
Ledakan ekonomi digital memberikan Indonesia pasar yang besar. Tantangan berikutnya adalah mengubah pasar tersebut menjadi kekuatan produksi.
Jika masyarakat Indonesia hanya menggunakan teknologi yang dibuat di tempat lain, pertumbuhan jumlah pengguna memang akan terlihat besar. Tetapi nilai terbesar dari pertumbuhan tersebut belum tentu berada di dalam negeri.
Sebaliknya, jika Indonesia mampu membangun talenta, perusahaan, infrastruktur, teknologi, dan kekayaan intelektual sendiri, pasar domestik yang besar dapat menjadi fondasi bagi lahirnya industri digital nasional.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan ekonomi digital bukan hanya berapa banyak orang yang terkoneksi, tetapi berapa besar nilai yang mampu diciptakan, dimiliki, dan dipertahankan Indonesia dari konektivitas tersebut.