JAKARTA, DeiJournal – Daya beli masyarakat menjadi salah satu penopang penting perekonomian Indonesia. Ketika rumah tangga meningkatkan konsumsi, aktivitas perdagangan, industri, transportasi hingga sektor jasa ikut bergerak. Sebaliknya, ketika masyarakat mulai menahan pengeluaran, dampaknya dapat terasa hingga ke pelaku usaha.
Namun, kondisi daya beli tidak selalu dapat dilihat hanya dari satu indikator. Pada 2026, sejumlah indikator justru menunjukkan konsumsi domestik dan keyakinan konsumen masih cukup kuat. Bank Indonesia mencatat Indeks Keyakinan Konsumen pada Agustus 2026 berada di level 118,5, meningkat dari 116,8 pada Juli.
Karena itu, pembahasan mengenai melemahnya daya beli perlu dilihat sebagai persoalan kemampuan dan kecenderungan masyarakat membelanjakan pendapatannya, bukan semata-mata sebagai tanda bahwa konsumsi nasional sedang mengalami penurunan tajam.
Apa yang dimaksud dengan daya beli?
Daya beli menggambarkan kemampuan masyarakat memperoleh barang dan jasa menggunakan pendapatan yang dimilikinya.
Ketika pendapatan meningkat lebih cepat dibandingkan harga barang dan jasa, kemampuan membeli biasanya ikut meningkat. Sebaliknya, apabila harga kebutuhan meningkat sementara pendapatan tidak bertambah secara sebanding, masyarakat dapat merasakan tekanan terhadap pengeluaran.
Kondisi tersebut dapat membuat rumah tangga mengubah prioritas belanja. Pengeluaran untuk kebutuhan pokok tetap dipertahankan, sementara pembelian barang sekunder atau tersier dapat ditunda.
Mengapa daya beli penting bagi perekonomian?
Konsumsi rumah tangga merupakan salah satu komponen utama permintaan domestik Indonesia.
Bank Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan, meningkat dari 5,39 persen pada triwulan IV 2025. Pertumbuhan tersebut antara lain ditopang oleh permintaan domestik dan peningkatan konsumsi rumah tangga.
Artinya, ketika konsumsi masyarakat terjaga, aktivitas ekonomi juga mendapatkan dukungan dari sisi permintaan.
Sebaliknya, jika masyarakat secara luas mengurangi pengeluaran, perusahaan dapat menghadapi penurunan permintaan terhadap produk dan jasa.
Dampaknya bagi pelaku usaha
Daya beli yang melemah dapat memberikan tekanan terutama kepada bisnis yang mengandalkan penjualan langsung kepada konsumen.
Beberapa dampaknya antara lain:
1. Penjualan dapat melambat
Konsumen cenderung lebih selektif ketika membeli barang. Produk yang tidak dianggap sebagai kebutuhan utama dapat mengalami penurunan permintaan.
2. Konsumen mencari harga lebih murah
Masyarakat dapat berpindah ke merek dengan harga lebih rendah, mencari diskon atau memilih ukuran produk yang lebih kecil.
3. Promosi menjadi semakin penting
Pelaku usaha mungkin perlu memberikan penawaran yang lebih menarik untuk mempertahankan volume transaksi. Namun, terlalu banyak diskon juga dapat menekan margin keuntungan.
4. Perputaran persediaan dapat melambat
Jika penjualan menurun, barang yang tersimpan di gudang membutuhkan waktu lebih lama untuk terjual. Hal ini dapat meningkatkan kebutuhan modal kerja.
5. Ekspansi bisnis bisa ditunda
Perusahaan dapat memilih menahan pembukaan cabang baru, pembelian aset atau perekrutan tenaga kerja sampai kondisi permintaan lebih jelas.
Tidak semua sektor terkena dampak dengan cara yang sama
Dampak perubahan daya beli berbeda-beda antarindustri.
Barang kebutuhan sehari-hari cenderung tetap memiliki permintaan karena masyarakat tetap membutuhkan makanan, minuman dan berbagai kebutuhan rumah tangga.
Sebaliknya, pembelian barang dengan nilai besar atau yang tidak mendesak dapat lebih mudah ditunda ketika konsumen merasa kondisi keuangan belum cukup aman.
Data Bank Indonesia mengenai penjualan eceran juga menunjukkan bahwa kinerja setiap kelompok barang dapat berbeda. Pada Mei 2026, misalnya, pertumbuhan tahunan penjualan eceran masih ditopang oleh beberapa kelompok seperti suku cadang dan aksesori, bahan bakar kendaraan bermotor serta barang budaya dan rekreasi.
Karena itu, istilah “daya beli melemah” tidak otomatis berarti seluruh sektor perdagangan mengalami penurunan dalam tingkat yang sama.
Harga kebutuhan menjadi salah satu faktor penting
Inflasi dapat memengaruhi daya beli karena kenaikan harga mengurangi jumlah barang dan jasa yang dapat dibeli dengan pendapatan yang sama.
Pemerintah dan Bank Indonesia terus menempatkan stabilitas harga sebagai salah satu bagian penting dalam menjaga daya beli. Pada Agustus 2026, inflasi nasional tercatat 3,19 persen secara tahunan, menurut Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Pemerintah juga menyebut berbagai program perlindungan sosial, stabilisasi pangan dan stimulus sebagai bagian dari upaya menjaga daya beli masyarakat.
Apa yang bisa dilakukan pelaku usaha?
Ketika konsumen semakin berhati-hati membelanjakan uang, pelaku usaha perlu memahami perubahan perilaku pelanggan.
Strateginya dapat berupa memperkuat produk yang benar-benar dibutuhkan pasar, menyediakan variasi harga, memperbaiki kualitas pelayanan dan mengelola persediaan secara lebih efisien.
Bisnis juga perlu berhati-hati dalam memberikan diskon. Penjualan yang meningkat belum tentu berarti keuntungan meningkat apabila margin terlalu rendah.
Selain itu, perusahaan perlu memperhatikan arus kas. Dalam kondisi permintaan yang tidak pasti, kemampuan menjaga kas dapat menjadi sama pentingnya dengan mengejar pertumbuhan penjualan.
Daya beli dan pertumbuhan ekonomi saling berkaitan
Daya beli masyarakat tidak berdiri sendiri. Pendapatan, lapangan pekerjaan, harga pangan, biaya transportasi, suku bunga, kredit konsumsi dan tingkat keyakinan konsumen dapat memengaruhi keputusan rumah tangga dalam membelanjakan uang.
Pada 2026, data Bank Indonesia menunjukkan konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu penopang permintaan domestik, sementara indeks keyakinan konsumen juga berada pada level optimis.
Karena itu, melemahnya daya beli sebaiknya tidak hanya dibaca dari berkurangnya transaksi pada satu periode atau satu kelompok barang. Yang lebih penting adalah melihat tren pendapatan riil, harga, konsumsi rumah tangga, penjualan ritel dan keyakinan konsumen secara bersamaan.
Bagi dunia usaha, perubahan daya beli menjadi sinyal penting dalam menentukan harga, produksi, persediaan, promosi dan rencana ekspansi. Sementara bagi perekonomian secara keseluruhan, menjaga kemampuan masyarakat untuk tetap memenuhi kebutuhan sekaligus mempertahankan konsumsi yang sehat menjadi bagian penting dari menjaga pertumbuhan ekonomi.