SOLO, DeiJournal – Ratusan umat Islam melaksanakan Shalat Istisqa di halaman Balai Kota Solo, Jawa Tengah, Selasa (22/9/2026). Salat yang diselenggarakan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) tersebut menjadi ikhtiar spiritual untuk memohon turunnya hujan di tengah kemarau dan kesulitan air yang terjadi di sejumlah wilayah.
Para jamaah berkumpul di halaman Balai Kota untuk melaksanakan salat dua rakaat dan memanjatkan doa agar hujan segera turun. Permohonan tersebut tidak hanya ditujukan bagi Kota Solo, tetapi juga untuk berbagai daerah di Indonesia yang menghadapi kekeringan serta dampak musim kemarau.
Kondisi kekeringan memang menjadi perhatian di Jawa Tengah. Dalam peringatan dini kekeringan meteorologis dasarian III September 2026, BMKG menempatkan Kota Surakarta dalam kategori Siaga, bersama Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang.
Bagi masyarakat, kekurangan air bukan sekadar persoalan lingkungan. Ketersediaan air berkaitan langsung dengan kebutuhan rumah tangga, pertanian, kesehatan, serta aktivitas ekonomi warga.
Shalat Istisqa menjadi bagian dari tradisi ibadah umat Islam ketika menghadapi kekeringan. Namun, doa dan ibadah tersebut berjalan berdampingan dengan ikhtiar manusia dalam menghadapi persoalan air dan lingkungan.
Sebelumnya, Pemerintah Kota Solo juga menggelar Shalat Istisqa pada 7 September 2026 di tengah penanganan kebakaran TPA Putri Cempo. Saat itu, kegiatan tersebut disebut sebagai bentuk keprihatinan dan tawakal setelah berbagai upaya penanganan dilakukan.
Kini, ketika kemarau masih menyisakan persoalan kekurangan air di sejumlah wilayah, doa kembali dipanjatkan. Di bawah terik matahari, jamaah menundukkan kepala dan memohon kepada Allah agar hujan segera turun.
Di tengah tanah yang mengering dan sumber air yang semakin terbatas, Shalat Istisqa menjadi pengingat bahwa manusia memiliki keterbatasan. Ikhtiar dilakukan, sementara harapan disandarkan kepada Sang Pemilik hujan dan kehidupan.