JAKARTA, DeiJournal – Perekonomian Indonesia masih menghadapi tantangan dari sisi daya beli masyarakat. Sejumlah indikator menunjukkan aktivitas konsumsi mulai stabil, tetapi perbaikan tersebut belum sepenuhnya berubah menjadi peningkatan belanja yang kuat di sektor riil.

Laporan terbaru Dewan Ekonomi Nasional (DEN) September 2026 menyebut konsumsi rumah tangga masih tumbuh, namun tekanan terhadap daya beli kelompok masyarakat menengah bawah meningkat. DEN juga mencatat aktivitas ekonomi tetap terjaga, meski sektor riil masih menghadapi sejumlah tantangan.

Kondisi tersebut menggambarkan situasi yang cukup berbeda dengan sekadar mengatakan ekonomi sedang mengalami kontraksi. Ekonomi Indonesia masih tumbuh, tetapi sebagian masyarakat dan pelaku usaha merasakan pemulihan yang belum merata.

Kepercayaan Konsumen Naik, tetapi Belanja Belum Menguat Signifikan

Salah satu indikator yang menarik adalah Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bank Indonesia.

BI mencatat IKK Agustus 2026 berada di level 118,5, naik dari 116,8 pada Juli. Angka di atas 100 menunjukkan konsumen secara umum masih berada dalam zona optimistis terhadap kondisi ekonomi.

Namun, meningkatnya keyakinan konsumen belum otomatis berarti masyarakat meningkatkan belanja secara signifikan.

Data penjualan ritel menunjukkan kondisi yang lebih hati-hati. BI memperkirakan Indeks Penjualan Riil (IPR) Agustus 2026 hanya tumbuh 0,5 persen secara tahunan. Angka tersebut lebih rendah dibanding pertumbuhan 1,1 persen pada Juli.

Situasi ini menjadi salah satu alasan munculnya persepsi bahwa ekonomi masih terasa lesu di tingkat masyarakat.

Dengan kata lain, masyarakat bisa saja memiliki pandangan yang lebih positif terhadap ekonomi, tetapi tetap memilih menunda pembelian barang yang tidak terlalu mendesak.

Tekanan Daya Beli Masih Terasa

Laporan DEN juga menunjukkan bahwa tekanan terhadap daya beli masyarakat menengah bawah masih menjadi perhatian.

Pada Agustus 2026, inflasi konsumen tercatat 3,2 persen secara tahunan, sementara inflasi perdagangan besar mencapai 6,2 persen. Nilai tukar rupiah juga masih mengalami depresiasi secara tahunan.

Kenaikan harga tidak selalu langsung membuat konsumsi turun drastis. Namun, apabila pendapatan masyarakat tidak meningkat secepat harga barang dan jasa, kemampuan membeli barang di luar kebutuhan pokok dapat berkurang.

Hal tersebut terutama dapat terasa pada kelompok rumah tangga yang memiliki ruang keuangan terbatas.

Masyarakat Lebih Selektif Berbelanja

Fenomena yang terjadi saat ini bukan berarti masyarakat berhenti berbelanja.

Sebaliknya, pola konsumsi dapat berubah menjadi lebih selektif.

Kebutuhan pokok tetap dibeli, sementara pembelian barang yang dianggap dapat ditunda cenderung dipertimbangkan lebih lama. Konsumen juga dapat lebih sensitif terhadap harga, diskon, cicilan, maupun promosi.

Perubahan pola tersebut berpengaruh langsung terhadap pelaku usaha.

Bagi bisnis ritel, restoran, fesyen, elektronik, otomotif dan berbagai sektor yang bergantung pada konsumsi masyarakat, kondisi seperti ini membuat persaingan mendapatkan pelanggan menjadi semakin ketat.

Sektor Ritel Belum Menunjukkan Pemulihan yang Merata

Data BI menunjukkan penjualan ritel pada Juli 2026 sebenarnya sudah kembali tumbuh 1,1 persen secara tahunan, setelah mengalami kontraksi 3 persen pada Juni.

Namun, perkiraan pertumbuhan 0,5 persen pada Agustus menunjukkan momentum tersebut belum berkembang menjadi akselerasi konsumsi yang kuat. Analisis Mirae Asset juga menilai konsumsi sedang berada dalam fase stabilisasi, bukan pemulihan luas yang sudah merata di berbagai sektor.

Ini menjadi tantangan tersendiri bagi dunia usaha.

Ketika konsumen mulai kembali berbelanja tetapi belum agresif, perusahaan harus mencari cara untuk mempertahankan penjualan tanpa terlalu menggerus margin melalui diskon.