JAKARTA, DeiJournal – Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat berbelanja dan menjalankan bisnis. Kehadiran marketplace, media sosial, layanan pembayaran digital, dan aplikasi pengiriman memungkinkan pelaku usaha menjangkau konsumen tanpa harus memiliki toko fisik di setiap wilayah.
Namun, semakin besarnya pasar digital bukan berarti strategi penjualan offline kehilangan relevansinya. Bagi banyak pelaku usaha, menggabungkan pemasaran online dengan pelayanan langsung justru membuka peluang untuk memperluas pasar, membangun kepercayaan pelanggan, dan meningkatkan penjualan.
Pendekatan yang mengintegrasikan berbagai saluran penjualan ini dikenal sebagai omnichannel. Melalui strategi tersebut, konsumen dapat mengenal produk di media sosial, memeriksa ketersediaannya melalui website, kemudian membeli atau mengambil barang secara langsung di toko.
Bisnis digital membuka pasar yang semakin luas
Digitalisasi memberikan kesempatan bagi usaha kecil maupun besar untuk menjangkau konsumen di luar wilayah operasionalnya.
Sebuah toko pakaian di Semarang, misalnya, tidak lagi hanya mengandalkan pelanggan yang datang langsung. Melalui marketplace dan media sosial, produk yang sama dapat dipasarkan kepada konsumen di Jakarta, Surabaya, bahkan berbagai wilayah lain di Indonesia.
Pelaku usaha juga dapat memanfaatkan iklan digital untuk menjangkau kelompok pelanggan tertentu, memantau efektivitas promosi, serta menganalisis produk yang paling diminati.
Meskipun demikian, kemudahan memasuki pasar digital juga membawa tantangan berupa persaingan harga, biaya iklan, ongkos pengiriman, dan ketergantungan terhadap platform penjualan.
Mengapa toko fisik masih dibutuhkan?
Tidak semua konsumen mengambil keputusan pembelian hanya berdasarkan foto, video, atau ulasan di internet.
Untuk produk tertentu, seperti pakaian, furnitur, kendaraan, dan peralatan elektronik, konsumen mungkin ingin melihat barang secara langsung sebelum membelinya.
Toko fisik memberikan kesempatan kepada pelanggan untuk memeriksa kualitas produk, mencoba barang, membandingkan pilihan, dan berkonsultasi dengan tenaga penjualan.
Interaksi langsung juga dapat membantu membangun kepercayaan, terutama bagi merek baru yang belum memiliki reputasi kuat di pasar.
Karena itu, keberadaan toko fisik tidak harus dipandang sebagai pesaing toko online. Keduanya dapat menjalankan fungsi yang saling melengkapi.
Strategi online dan offline dapat saling mendukung
Salah satu contoh penerapan strategi omnichannel adalah layanan click and collect, yakni pelanggan melakukan pemesanan secara online kemudian mengambil barang di toko.
Melalui sistem tersebut, konsumen dapat memastikan ketersediaan produk sebelum datang. Di sisi lain, pelaku usaha berpeluang mengurangi sebagian biaya pengiriman sekaligus menciptakan kesempatan untuk menawarkan produk tambahan ketika pelanggan mengambil pesanan.
Strategi serupa juga dapat diterapkan pada bisnis makanan, toko elektronik, toko perlengkapan rumah tangga, hingga usaha jasa.
Pelanggan dapat memperoleh informasi melalui website atau media sosial, melakukan reservasi secara online, kemudian menerima pelayanan langsung di lokasi usaha.
Ekonomi digital Indonesia mendekati US$100 miliar
Besarnya peluang bisnis digital terlihat dari laporan e-Conomy SEA 2025 yang diterbitkan Google, Temasek, dan Bain & Company.
Laporan tersebut memperkirakan nilai transaksi bruto atau gross merchandise value (GMV) ekonomi digital Indonesia mendekati US$100 miliar pada 2025, tumbuh sekitar 14 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sektor perdagangan elektronik diproyeksikan menjadi kontributor terbesar dengan nilai mencapai US$71 miliar. Pertumbuhan ini turut didorong oleh perkembangan video commerce dan semakin banyaknya penjual yang memanfaatkan platform digital.
Meski demikian, GMV tidak sama dengan keuntungan bersih perusahaan. Besarnya transaksi digital tetap perlu diimbangi dengan pengelolaan biaya operasional, pemasaran, distribusi, dan pelayanan pelanggan.
Pengalaman berbelanja langsung tetap memiliki nilai
Peran toko fisik kini mulai bergeser. Selain menjadi tempat transaksi, toko dapat berfungsi sebagai ruang konsultasi, demonstrasi produk, pengambilan pesanan, serta layanan purnajual.
Penelitian mengenai peran toko fisik dalam ekonomi digital yang dipublikasikan Harvard Business Review pada Agustus 2026 turut membahas perubahan fungsi tersebut, terutama dalam memenuhi kebutuhan konsumen yang sulit diselesaikan melalui saluran online.
Bagi pelaku usaha, hal ini membuka kesempatan untuk menjadikan toko fisik sebagai sarana membangun hubungan pelanggan, bukan hanya tempat memajang produk.
Pembayaran digital menghubungkan kedua saluran
Integrasi bisnis online dan offline juga semakin mudah dengan berkembangnya sistem pembayaran digital.
Berdasarkan data Bank Indonesia yang dilaporkan ANTARA pada Agustus 2026, hingga Juni 2026 QRIS telah digunakan oleh 65,77 juta pengguna dan diterima oleh 44,86 juta merchant. Sebanyak 96,68 persen merchant tersebut merupakan UMKM.
Perkembangan ini memungkinkan pelaku usaha menyediakan pilihan pembayaran yang seragam, baik untuk transaksi melalui platform digital maupun pembelian langsung di toko.
Tantangan mengelola bisnis online dan offline
Menggabungkan kedua saluran penjualan bukan berarti pelaku usaha harus langsung membuka toko besar atau menambah banyak cabang.
Strategi tersebut justru perlu disesuaikan dengan kemampuan keuangan, jenis produk, lokasi pelanggan, dan kebutuhan operasional.
Salah satu tantangan utamanya adalah pengelolaan persediaan. Ketika stok toko fisik dan marketplace tidak terhubung, sebuah produk bisa terjual secara bersamaan melalui dua saluran meskipun jumlah barang yang tersedia terbatas.
Masalah serupa dapat muncul dalam penetapan harga, promosi, pengiriman, dan penanganan keluhan pelanggan.
Karena itu, bisnis yang menerapkan strategi omnichannel membutuhkan koordinasi antara sistem penjualan, gudang, pemasaran, dan pelayanan konsumen.
Strategi offline tidak harus mahal
Bagi UMKM yang memiliki keterbatasan modal, membangun strategi offline dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti mengikuti bazar, membuka gerai sementara, menyediakan layanan pengambilan pesanan, atau bekerja sama dengan toko yang sudah memiliki pelanggan.
Pelaku usaha juga dapat memanfaatkan kegiatan komunitas dan pameran untuk memperkenalkan produk kepada calon konsumen.
Kegiatan tersebut sekaligus memberikan kesempatan untuk mendapatkan masukan langsung mengenai kualitas, harga, kemasan, dan kebutuhan pelanggan.
Dengan demikian, strategi offline tidak selalu identik dengan biaya sewa toko dan investasi bangunan yang besar.
Masa depan bisnis bukan sekadar online atau offline
Perkembangan ekonomi digital menunjukkan bahwa perilaku konsumen semakin beragam. Sebagian pelanggan mengutamakan kemudahan berbelanja melalui aplikasi, sementara sebagian lainnya tetap membutuhkan pengalaman melihat produk dan berinteraksi langsung dengan penjual.
Bagi pelaku usaha, tantangannya bukan memilih salah satu saluran, melainkan menentukan kombinasi yang sesuai dengan karakter bisnis dan pelanggannya.
Strategi digital membantu memperluas jangkauan pasar, sedangkan strategi offline dapat memperkuat pengalaman, pelayanan, dan hubungan dengan konsumen. Ketika keduanya dikelola secara terpadu, bisnis memiliki lebih banyak cara untuk melayani pelanggan dan mengembangkan penjualan.