JAKARTA, DeiJournal – Batuk merupakan refleks alami tubuh untuk membersihkan saluran pernapasan dari lendir, partikel atau benda asing. Pada banyak kasus, batuk akibat infeksi saluran pernapasan dapat membaik dengan sendirinya. Namun, batuk yang berlangsung terlalu lama perlu mendapat perhatian, terutama jika disertai gejala lain.
Kementerian Kesehatan mengelompokkan batuk berdasarkan durasinya. Batuk akut berlangsung hingga tiga minggu, batuk subakut sekitar tiga sampai delapan minggu, sedangkan batuk kronis berlangsung lebih dari delapan minggu.
Namun, untuk tuberkulosis (TBC), batas kewaspadaan di Indonesia lebih pendek. Batuk selama lebih dari dua minggu, terutama jika disertai gejala lain, perlu diperiksa untuk mengetahui kemungkinan TBC.
Tidak Semua Batuk Berarti Infeksi Serius
Batuk dapat disebabkan oleh berbagai kondisi.
Infeksi virus merupakan salah satu penyebab yang umum. Selain itu, batuk berkepanjangan juga dapat berkaitan dengan paparan asap rokok, asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), alergi, atau refluks asam lambung.
Kementerian Kesehatan mencatat bahwa batuk kronis dapat ditemukan pada perokok, penderita TBC paru, PPOK dan gastroesophageal reflux disease (GERD).
Karena penyebabnya beragam, batuk yang tidak kunjung membaik sebaiknya tidak terus-menerus diobati sendiri tanpa mengetahui penyebabnya.
Batuk Lebih dari Dua Minggu Perlu Diperhatikan
Di Indonesia, salah satu kondisi yang perlu dipikirkan ketika batuk berlangsung lebih dari dua minggu adalah TBC.
Gejala TBC dapat berupa batuk terus-menerus, sesak napas, nyeri dada, berat badan menurun, demam berkepanjangan dan berkeringat pada malam hari. Batuk juga dapat disertai darah.
Kementerian Kesehatan menganjurkan masyarakat yang mengalami batuk lebih dari dua minggu atau batuk yang tidak membaik setelah pengobatan biasa untuk memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Pemeriksaan menjadi semakin penting apabila seseorang memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TBC.
Waspadai Batuk Disertai Darah
Batuk berdarah merupakan salah satu tanda yang tidak sebaiknya diabaikan.
Darah yang keluar ketika batuk dapat memiliki berbagai penyebab. Karena itu, tidak tepat langsung menyimpulkan penyebabnya hanya dari gejala tersebut.
Namun, Kementerian Kesehatan memasukkan batuk berdarah sebagai salah satu gejala yang perlu diperiksa, khususnya dalam evaluasi TBC dan penyakit paru lainnya.
Jika darah keluar dalam jumlah banyak atau disertai sesak dan kondisi tubuh memburuk, seseorang membutuhkan pertolongan medis segera.
Demam dan Berat Badan Turun Juga Perlu Diperhatikan
Batuk yang disertai demam berkepanjangan, keringat malam, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, lemas atau berkurangnya nafsu makan membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Kombinasi gejala tersebut dapat ditemukan pada TBC, meskipun tidak berarti setiap orang dengan gejala tersebut pasti mengalami TBC. Diagnosis tetap membutuhkan pemeriksaan tenaga kesehatan.
Pada orang dengan faktor risiko tertentu, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan seperti pemeriksaan dahak, tes molekuler dan foto rontgen dada sesuai kondisi pasien.
Kapan Harus Segera ke Dokter?
Selain durasi batuk, beberapa tanda berikut perlu menjadi perhatian:
- batuk berlangsung lebih dari dua minggu;
- batuk semakin berat atau tidak membaik;
- batuk disertai darah;
- sesak napas;
- nyeri dada;
- demam yang menetap;
- berkeringat pada malam hari;
- berat badan turun tanpa sebab yang jelas;
- tubuh semakin lemas;
- memiliki kontak erat dengan penderita TBC.
Kementerian Kesehatan juga menyarankan pemeriksaan apabila batuk berlangsung lebih dari tiga minggu dan disertai demam lebih dari tiga hari, batuk berdarah, sesak, nyeri dada atau gejala penyakit paru lainnya.
Sementara itu, kesulitan bernapas, nyeri atau tekanan dada yang menetap, kebingungan, kelemahan berat, atau batuk yang sempat membaik kemudian kembali memburuk merupakan tanda yang membutuhkan pertolongan medis segera.
Pemeriksaan Membantu Menentukan Penyebab
Dokter biasanya akan menilai lama batuk, karakter batuk, keberadaan dahak, riwayat penyakit, kebiasaan merokok, paparan lingkungan dan kemungkinan kontak dengan penderita penyakit menular.
Jika diperlukan, pemeriksaan dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan dahak, rontgen dada atau pemeriksaan fungsi paru, tergantung dugaan penyebabnya.
Untuk dugaan TBC, pemeriksaan dapat dilakukan di puskesmas maupun fasilitas kesehatan lainnya. Kementerian Kesehatan menyebut pemeriksaan dahak dan pemeriksaan molekuler dapat digunakan dalam proses diagnosis.
Jangan Hanya Mengandalkan Obat Batuk
Batuk merupakan gejala, bukan selalu penyakit itu sendiri.
Karena itu, obat yang meredakan batuk belum tentu mengatasi penyebabnya. Jika batuk disebabkan oleh TBC, asma, PPOK, GERD atau kondisi lain, penanganannya perlu disesuaikan dengan penyebab tersebut.
Terutama jika batuk telah berlangsung lebih dari dua minggu, masyarakat sebaiknya tidak hanya berganti-ganti obat batuk tanpa pemeriksaan.
Batuk yang menetap adalah sinyal untuk mencari tahu penyebabnya. Semakin jelas penyebabnya, semakin tepat pula penanganannya.