JAKARTA, DeiJournal – Gula darah tinggi tidak selalu membuat seseorang merasa sakit. Pada prediabetes dan diabetes tipe 2, kadar gula dalam darah dapat meningkat secara perlahan sehingga seseorang tetap beraktivitas seperti biasa tanpa menyadari adanya masalah kesehatan. WHO menyebut gejala diabetes tipe 2 dapat ringan atau bahkan tidak muncul selama bertahun-tahun.
Kondisi inilah yang membuat pemeriksaan gula darah menjadi penting. Seseorang tidak harus menunggu sampai sering haus, sering buang air kecil atau mengalami penurunan berat badan untuk memeriksakan kadar gula darah.
Mengapa gula darah tinggi bisa tidak terasa?
Tubuh membutuhkan insulin untuk membantu memindahkan glukosa dari aliran darah ke dalam sel sebagai sumber energi. Pada diabetes tipe 2, tubuh dapat mengalami resistensi insulin dan secara bertahap kemampuan menghasilkan insulin juga dapat menurun.
Proses tersebut dapat berlangsung perlahan.
Akibatnya, kadar gula darah mungkin sudah berada di atas normal sebelum muncul keluhan yang jelas. CDC juga mencatat bahwa prediabetes dan diabetes tipe 2 sering tidak menimbulkan gejala, sehingga pemeriksaan menjadi cara penting untuk mengetahuinya.
Gejala bisa muncul belakangan
Ketika kadar gula darah semakin tinggi, beberapa gejala dapat mulai dirasakan.
Gejala yang umum antara lain:
- sering merasa haus;
- lebih sering buang air kecil;
- mudah lelah;
- penglihatan menjadi kabur;
- berat badan turun tanpa sebab yang jelas.
Namun, tidak munculnya gejala tersebut bukan berarti kadar gula darah pasti normal. Pada diabetes tipe 2, gejala dapat berkembang secara perlahan dan baru diketahui setelah kondisi berlangsung cukup lama.
Apa bedanya prediabetes dan diabetes?
Tidak semua kadar gula yang meningkat langsung berarti seseorang mengalami diabetes.
Prediabetes merupakan kondisi ketika kadar gula darah lebih tinggi daripada normal, tetapi belum mencapai kriteria diagnosis diabetes. Kondisi ini meningkatkan risiko berkembang menjadi diabetes tipe 2 serta berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke.
Sementara itu, diabetes merupakan kondisi ketika kadar gula darah sudah memenuhi kriteria diagnosis.
Salah satu pemeriksaan yang banyak digunakan adalah HbA1c. Tes ini menggambarkan rata-rata kadar gula darah selama sekitar dua hingga tiga bulan terakhir. Berdasarkan kriteria CDC, HbA1c di bawah 5,7 persen berada dalam rentang normal, 5,7–6,4 persen menunjukkan prediabetes, sedangkan 6,5 persen atau lebih berada dalam rentang diabetes.
Pemeriksaan gula darah tidak harus menunggu gejala
Ada beberapa pemeriksaan yang dapat digunakan untuk mengetahui kondisi gula darah.
Salah satunya adalah gula darah puasa, yaitu pemeriksaan setelah tidak mengonsumsi kalori selama setidaknya delapan jam. Menurut kriteria CDC, hasil 100–125 mg/dL berada dalam rentang prediabetes, sedangkan 126 mg/dL atau lebih berada dalam rentang diabetes.
Selain itu terdapat pemeriksaan HbA1c dan tes toleransi glukosa oral.
Dokter dapat menentukan pemeriksaan yang sesuai berdasarkan kondisi dan faktor risiko seseorang.
Pada orang yang tidak memiliki gejala, hasil pemeriksaan yang berada dalam rentang diabetes perlu dikonfirmasi dengan pemeriksaan ulang sebelum diagnosis ditegakkan. WHO juga menekankan perlunya konfirmasi pada orang tanpa gejala.
Siapa yang perlu lebih memperhatikan?
Risiko diabetes tipe 2 dapat meningkat pada orang dengan sejumlah faktor tertentu, termasuk kelebihan berat badan, usia yang lebih tua, riwayat keluarga dengan diabetes dan kurangnya aktivitas fisik.
Memiliki faktor risiko bukan berarti seseorang pasti mengalami diabetes.
Namun, kondisi tersebut dapat menjadi alasan untuk berdiskusi dengan tenaga kesehatan mengenai apakah pemeriksaan gula darah diperlukan.
Mengapa pemeriksaan penting?
Gula darah yang terus tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah dan saraf.
WHO menyebut diabetes yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko masalah pada jantung, pembuluh darah, mata, ginjal dan saraf. Komplikasi yang dapat terjadi antara lain penyakit jantung, stroke, gangguan ginjal, gangguan penglihatan serta masalah pada kaki.
Karena sebagian orang tidak merasakan gejala pada tahap awal, pemeriksaan dapat membantu menemukan masalah lebih dini.
Jika ditemukan prediabetes, perubahan pola makan, peningkatan aktivitas fisik dan pengelolaan berat badan dapat membantu mencegah atau menunda perkembangan menjadi diabetes tipe 2.
Jangan menunggu tubuh memberi tanda
Gula darah tinggi merupakan salah satu kondisi yang dapat berkembang tanpa keluhan yang jelas.
Karena itu, kesehatan tidak selalu dapat dinilai hanya dari apakah seseorang merasa sakit atau tidak. Pemeriksaan laboratorium dapat memberikan informasi yang tidak terlihat dari gejala sehari-hari.
Bagi orang yang memiliki faktor risiko atau mendapatkan hasil pemeriksaan gula darah yang meningkat, langkah berikutnya sebaiknya dibicarakan dengan dokter atau tenaga kesehatan. Diagnosis diabetes tidak seharusnya ditentukan hanya berdasarkan satu hasil pemeriksaan secara sembarangan.