JAKARTA, DeiJournal – Indonesia sedang menghadapi perubahan besar dalam ekonomi digital. Pertumbuhan jumlah pengguna internet, transaksi daring, layanan digital, hingga perkembangan kecerdasan buatan membuat Indonesia menjadi salah satu pasar digital terbesar di kawasan. Namun, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar memperbesar jumlah pengguna, melainkan memastikan Indonesia mampu menjadi pencipta teknologi, infrastruktur, talenta, dan produk digital.
Selama bertahun-tahun, kekuatan Indonesia dalam ekonomi digital lebih banyak terlihat dari besarnya pasar. Jumlah penduduk yang besar membuat Indonesia menjadi tujuan menarik bagi perusahaan teknologi global, mulai dari platform perdagangan elektronik, layanan transportasi daring, media sosial, hingga berbagai layanan berbasis aplikasi.
Masalahnya, besarnya pasar tidak otomatis membuat nilai ekonomi digital tinggal di dalam negeri.
Sebagian teknologi inti, infrastruktur komputasi, perangkat keras, sistem kecerdasan buatan, hingga platform digital masih bergantung pada perusahaan dan teknologi dari luar negeri. Kondisi tersebut membuat Indonesia menghadapi pertanyaan yang semakin penting: apakah Indonesia hanya akan menjadi pengguna teknologi atau mulai membangun kapasitas teknologinya sendiri?
Dari pengguna menjadi pembangun
Perubahan menuju ekonomi berbasis AI membuat persoalan tersebut semakin penting.
Kecerdasan buatan membutuhkan sejumlah komponen yang tidak sederhana, mulai dari pusat data, jaringan telekomunikasi, komputasi berkapasitas tinggi, penyimpanan data, keamanan siber, model AI, hingga sumber daya manusia yang mampu mengembangkan dan mengoperasikannya.
Artinya, ekonomi digital masa depan tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak orang yang menggunakan internet.
Kemampuan membangun infrastruktur digital dan teknologi inti akan semakin menentukan posisi sebuah negara dalam rantai nilai ekonomi global.
Indonesia sebenarnya telah memiliki modal awal. Jumlah pengguna internet yang besar menciptakan pasar sekaligus sumber data. Pertumbuhan perusahaan rintisan melahirkan pengalaman dalam membangun layanan digital. Sementara perguruan tinggi dan industri mulai menghasilkan lebih banyak tenaga kerja di bidang teknologi.
Namun, kapasitas tersebut masih perlu diperluas dari sekadar pengembangan aplikasi dan layanan digital menuju teknologi yang lebih fundamental.
Infrastruktur menjadi persoalan penting
Salah satu fondasi yang menentukan adalah pusat data.
Pertumbuhan cloud computing, AI generatif, dan AI agent membuat kebutuhan terhadap kapasitas komputasi meningkat. Perusahaan yang ingin menjalankan model AI dalam skala besar membutuhkan pusat data dengan pasokan listrik yang stabil, jaringan berkecepatan tinggi, sistem pendingin, serta perangkat komputasi khusus.
Karena itu, pembangunan pusat data bukan hanya persoalan properti atau infrastruktur internet. Ia mulai menjadi bagian dari infrastruktur ekonomi nasional.
Hal yang sama berlaku untuk jaringan telekomunikasi. Semakin banyak aktivitas ekonomi berpindah ke ruang digital, semakin penting kualitas konektivitas dan pemerataan akses internet.
Tanpa infrastruktur yang merata, ekonomi digital berpotensi tumbuh sangat cepat di pusat-pusat ekonomi, tetapi meninggalkan wilayah yang memiliki akses teknologi lebih terbatas.
Talenta menjadi faktor penentu
Infrastruktur saja tidak cukup.
Indonesia juga membutuhkan sumber daya manusia yang mampu membangun dan mengembangkan teknologi tersebut.
Kebutuhan itu tidak hanya mencakup programmer. Industri membutuhkan ahli data, keamanan siber, cloud computing, artificial intelligence, semikonduktor, robotika, desain produk, hingga tenaga yang memahami penerapan teknologi di sektor seperti kesehatan, manufaktur, pertanian dan keuangan.
Persoalannya kemudian bukan sekadar berapa banyak lulusan teknologi yang dihasilkan, tetapi seberapa sesuai kemampuan mereka dengan kebutuhan industri yang terus berubah.
Perkembangan AI bahkan membuat kebutuhan tersebut semakin kompleks. Sebagian pekerjaan pemrograman dan analisis dapat dibantu AI, sementara kebutuhan terhadap orang yang mampu merancang sistem, mengawasi AI, memahami data dan mengambil keputusan justru semakin penting.
Dari startup pengguna teknologi menjadi pencipta teknologi
Ekosistem startup juga memiliki peran penting.
Selama ini banyak perusahaan rintisan Indonesia membangun bisnis dengan memanfaatkan teknologi yang telah tersedia. Model tersebut memungkinkan inovasi berlangsung lebih cepat karena perusahaan tidak harus menciptakan seluruh teknologi dari awal.
Namun, pada tahap berikutnya, Indonesia perlu memiliki lebih banyak perusahaan yang mengembangkan teknologi dan produk digital yang dapat digunakan tidak hanya di pasar domestik, tetapi juga di pasar internasional.
Perubahan ini membutuhkan ekosistem pembiayaan, riset, perguruan tinggi, industri dan pemerintah yang saling terhubung.
Perusahaan teknologi tidak bisa berdiri sendiri. Riset di kampus harus dapat menemukan jalur menuju industri. Industri membutuhkan tenaga kerja yang sesuai. Pemerintah menyediakan kerangka regulasi dan infrastruktur. Sementara investor memberikan modal untuk membawa inovasi dari tahap penelitian menuju produk komersial.
Tantangan AI
Kehadiran AI memberikan peluang sekaligus tantangan baru.
Indonesia memiliki pasar yang besar untuk penerapan AI, tetapi pasar tersebut juga dapat menjadi tempat masuknya berbagai produk AI dari luar negeri.
Jika hanya menjadi konsumen, nilai ekonomi yang dihasilkan dari pertumbuhan AI sebagian besar dapat mengalir kepada pemilik teknologi, infrastruktur dan platform.
Sebaliknya, jika Indonesia mampu membangun model, aplikasi, infrastruktur dan layanan AI sendiri, peluang untuk menangkap nilai ekonomi yang lebih besar akan terbuka.
Hal ini tidak berarti Indonesia harus menciptakan seluruh teknologi dari nol. Dalam banyak sektor, kolaborasi dengan perusahaan global tetap diperlukan. Yang menjadi persoalan adalah seberapa besar kapasitas domestik yang dapat dibangun dari kolaborasi tersebut.
Indonesia sebagai bagian dari rantai nilai teknologi
Perubahan posisi Indonesia dari pasar menjadi pencipta kapasitas digital juga dapat dikaitkan dengan sektor manufaktur.
Elektronik, perangkat telekomunikasi, pusat data, baterai, kendaraan listrik, hingga komponen semikonduktor membutuhkan kombinasi antara teknologi, tenaga kerja terampil dan rantai pasok.
Indonesia memiliki sumber daya alam dan pasar domestik yang besar. Tantangannya adalah menghubungkan keunggulan tersebut dengan kemampuan teknologi dan industri.
Dengan demikian, transformasi digital tidak berhenti pada aplikasi yang berada di layar ponsel. Ia dapat berkembang menjadi ekosistem yang mencakup data, pusat data, jaringan, perangkat keras, energi, perangkat lunak, AI, talenta dan industri.
Pertanyaan yang lebih besar
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan ekonomi digital Indonesia bukan hanya seberapa banyak masyarakat menggunakan aplikasi digital atau seberapa besar nilai transaksi daring.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: berapa banyak teknologi yang mampu dibuat Indonesia, berapa banyak talenta yang mampu dikembangkan, berapa besar infrastruktur digital yang dikuasai dan berapa banyak produk teknologi Indonesia yang mampu bersaing di pasar global.
Indonesia memiliki pasar yang besar. Modal tersebut penting, tetapi pasar hanya merupakan salah satu tahap.
Tahap berikutnya adalah mengubah ukuran pasar menjadi kapasitas produksi dan inovasi digital.
Jika transformasi tersebut berhasil dilakukan, Indonesia tidak hanya menjadi tempat bagi teknologi global untuk mencari pengguna, tetapi juga menjadi salah satu tempat lahirnya teknologi yang digunakan oleh pengguna di berbagai negara.