JAKARTA, DeiJournal – Kecerdasan buatan memasuki tahap baru. Setelah beberapa tahun masyarakat terbiasa menggunakan AI untuk menjawab pertanyaan, membuat tulisan, merangkum dokumen atau menghasilkan gambar, teknologi tersebut kini bergerak menuju kemampuan yang lebih jauh: menjalankan pekerjaan secara mandiri berdasarkan tujuan yang diberikan manusia.

Perubahan ini dikenal sebagai Agentic AI atau AI Agent.

Berbeda dengan chatbot yang umumnya menunggu instruksi untuk setiap langkah, AI Agent dirancang untuk memahami tujuan, menyusun langkah kerja, menggunakan berbagai perangkat atau aplikasi, kemudian menjalankan serangkaian tindakan untuk menyelesaikan tugas.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sendiri menyebut perkembangan tersebut sebagai fase ketika AI tidak lagi sekadar memberikan respons, tetapi dapat merencanakan, mengambil keputusan dan menjalankan tindakan secara mandiri. Pemerintah juga sedang menyiapkan Peraturan Presiden mengenai Peta Jalan AI Nasional dan Etika AI.

Dari Menjawab Menjadi Mengerjakan

Perbedaan paling sederhana antara chatbot dan AI Agent terletak pada cara bekerja.

Ketika seseorang meminta chatbot mencari informasi perjalanan, misalnya, AI dapat memberikan rekomendasi hotel, penerbangan dan tempat wisata.

AI Agent dirancang untuk melangkah lebih jauh. Dengan akses dan izin yang sesuai, sistem dapat mencari pilihan, membandingkan harga, mengatur jadwal, menghubungi layanan tertentu, bahkan melakukan transaksi.

Komdigi memberikan contoh penggunaan Agentic AI sebagai asisten perjalanan yang dapat membantu memilih tiket, mengatur akomodasi, menghubungi penyedia layanan hingga melakukan pembayaran.

Perbedaannya bukan sekadar kemampuan menghasilkan teks.

AI mulai berubah dari alat untuk menghasilkan jawaban menjadi alat untuk menjalankan pekerjaan.

Dunia Kerja Mulai Berubah

Perubahan tersebut mulai terlihat di perusahaan.

Survei McKinsey yang diterbitkan Agustus 2026 menunjukkan 40 persen responden dari perusahaan besar dengan pendapatan tahunan lebih dari US$1 miliar melaporkan telah meningkatkan penggunaan AI Agent di setidaknya satu fungsi bisnis. Angka tersebut meningkat dari 27 persen pada tahun sebelumnya. Pada perusahaan yang lebih kecil, angkanya sekitar 22 persen.

Penggunaan paling banyak dilaporkan pada bidang seperti teknologi informasi, manajemen pengetahuan dan rekayasa perangkat lunak.

Di bidang lain, penerapannya mulai berkembang untuk pemasaran, penjualan, perekrutan, layanan pelanggan hingga pengelolaan rantai pasok.

OpenAI juga melaporkan bahwa penggunaan AI di lingkungan perusahaan mulai bergeser dari sekadar bantuan menuju delegasi pekerjaan. Menurut data yang dipublikasikan perusahaan tersebut, penggunaan agen telah meluas dari pengembangan perangkat lunak ke fungsi seperti legal, rekrutmen dan pemasaran.

Bukan Lagi Satu Perintah, tetapi Rangkaian Pekerjaan

Salah satu perubahan penting adalah kemampuan AI Agent menangani tugas yang membutuhkan banyak tahapan.

Misalnya sebuah perusahaan meminta AI membuat laporan pasar.

Chatbot konvensional mungkin membantu mencari informasi, menyusun tabel dan menulis laporan setelah pengguna memberikan bahan.

Sistem berbasis agen dapat dirancang untuk menjalankan rangkaian proses: mencari data, mengambil informasi dari beberapa sumber, mengolahnya, membandingkan hasil, membuat dokumen dan mengirimkannya kepada orang yang ditentukan.

OpenAI menggambarkan perubahan tersebut sebagai pergeseran dari interaksi tunggal menuju tugas yang didelegasikan dan berlangsung lebih lama, dengan agen dapat menggunakan berbagai alat serta melakukan beberapa langkah untuk mencapai tujuan.

Namun, kemampuan tersebut sangat bergantung pada akses yang diberikan kepada sistem.

Semakin banyak aplikasi, data dan akun yang dapat diakses sebuah agen, semakin besar pula konsekuensi jika agen melakukan kesalahan.

Google dan Industri Teknologi Ikut Bergerak

Google juga memperkenalkan sejumlah pengalaman berbasis agen pada 2026.

Dalam pengembangan Search, Google mengatakan pengguna dapat menggunakan agen melalui perintah tertentu. Google juga memperkenalkan berbagai pengalaman agentic dalam Search dan Gemini, serta platform pengembangan yang dirancang dengan pendekatan agent-first.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa konsep AI Agent mulai bergerak dari laboratorium dan proyek eksperimental menuju produk yang digunakan konsumen dan perusahaan.

Tetapi tingkat kematangan penerapannya masih berbeda-beda.

Deloitte dalam survei 2026 menemukan hanya 5 persen organisasi yang menyatakan proses bisnis mereka sudah sangat siap untuk AI Agent. Sementara itu, 15 persen melaporkan telah menerapkan penggunaan multi-agent lintas fungsi secara terukur.

Artinya, perkembangan teknologi berjalan lebih cepat daripada kesiapan sebagian organisasi.

Ketika AI Bisa Bertindak, Risiko Ikut Berubah

AI yang hanya memberikan jawaban memiliki satu jenis risiko: jawaban tersebut bisa salah.

AI yang dapat melakukan tindakan memiliki risiko tambahan.

Sistem bisa mengirim email yang keliru, mengubah data, membeli sesuatu, memberikan akses kepada pihak tertentu atau menjalankan proses yang tidak sesuai dengan tujuan pengguna.

Karena itu, persoalan terbesar AI Agent bukan hanya seberapa pintar sistem tersebut, tetapi juga seberapa jelas batas kewenangannya.

Komdigi secara khusus menyoroti persoalan tersebut. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mempertanyakan bagaimana pertanggungjawaban diberikan ketika AI yang dapat mengambil tindakan melakukan kesalahan. Pemerintah menekankan pentingnya batas otoritas dan keterlibatan manusia.

Manusia Tidak Hilang dari Persamaan

Kemunculan AI Agent tidak otomatis berarti seluruh pekerjaan manusia dapat dihapus.

Deloitte menemukan 75 persen pemimpin yang disurvei justru menilai kolaborasi manusia dengan AI Agent menghasilkan nilai lebih besar dibandingkan otomatisasi berbasis agen saja. Dalam survei yang sama, 61 persen memperkirakan sebagian besar AI Agent yang digunakan dalam empat tahun mendatang akan bekerja secara relatif otonom dengan manusia tetap menjalankan fungsi pengawasan.

Model yang mulai muncul adalah manusia memberikan tujuan, batasan dan otorisasi, sementara AI menjalankan sebagian pekerjaan.

Dengan pola tersebut, peran manusia dapat bergeser dari melakukan setiap langkah menjadi menentukan tujuan, mengawasi proses dan memeriksa hasil.

Tata Kelola Menjadi Persoalan Baru

Perubahan ini juga membuat perusahaan membutuhkan sistem pengawasan yang berbeda.

McKinsey dalam survei AI Trust 2026 menemukan bahwa kemampuan tata kelola AI dan kontrol terhadap AI Agent masih tertinggal dibandingkan perkembangan teknologi. Hanya sekitar sepertiga organisasi yang mencapai tingkat kematangan yang lebih tinggi dalam strategi, tata kelola dan kontrol AI Agent.

Beberapa persoalan yang perlu dijawab antara lain:

  • Data apa yang boleh diakses agen?
  • Tindakan apa yang boleh dilakukan tanpa persetujuan manusia?
  • Kapan manusia wajib mengambil alih?
  • Siapa yang bertanggung jawab ketika agen melakukan kesalahan?
  • Bagaimana aktivitas agen dicatat dan diaudit?
  • Bagaimana mencegah agen mengambil keputusan berdasarkan informasi yang keliru?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika AI Agent mulai digunakan untuk pekerjaan yang berkaitan dengan keuangan, kesehatan, hukum, pemerintahan dan data pribadi.

Indonesia Mulai Menyiapkan Aturannya

Indonesia tidak berada di luar perkembangan tersebut.

Komdigi menyatakan pemerintah sedang menyiapkan Peta Jalan AI Nasional dan Etika AI. Pada saat yang sama, pemerintah juga mendorong pembahasan tata kelola Agentic AI agar perkembangan teknologi tetap disertai prinsip akuntabilitas, transparansi dan perlindungan kepentingan publik.

Tantangannya adalah menjaga keseimbangan.

Aturan yang terlalu longgar dapat meningkatkan risiko penyalahgunaan. Sebaliknya, aturan yang tidak mengikuti perkembangan teknologi dapat membuat regulasi tertinggal dari praktik di lapangan.

Era Baru yang Tidak Hanya Soal Teknologi

AI Agent pada akhirnya mengubah pertanyaan dasar tentang hubungan manusia dengan komputer.

Selama bertahun-tahun, manusia terbiasa memberikan perintah kepada perangkat dan menerima hasilnya. Dalam era AI Agent, manusia mulai memberikan tujuan, sementara sistem menentukan sebagian langkah untuk mencapainya.

Perubahan tersebut berpotensi meningkatkan produktivitas di berbagai sektor. Tetapi semakin besar kemampuan AI untuk bertindak, semakin besar pula kebutuhan terhadap pengawasan manusia.

Karena itu, pertanyaan penting pada era AI Agent bukan hanya “Apa yang bisa dilakukan AI?”

Pertanyaan berikutnya adalah “Apa yang boleh dilakukan AI, dengan izin siapa, dan siapa yang bertanggung jawab ketika terjadi kesalahan?”

Di situlah masa depan AI tidak hanya ditentukan oleh kemampuan model, tetapi juga oleh bagaimana manusia merancang batas, aturan dan tanggung jawab di sekelilingnya.