JAKARTA, DeiJournal – Industri komponen otomotif Indonesia memasuki fase perubahan seiring semakin cepatnya pertumbuhan kendaraan listrik. Perubahan tersebut tidak hanya terjadi pada produsen kendaraan, tetapi juga pada perusahaan yang selama ini menjadi bagian dari rantai pasok otomotif.

Gambaran mengenai perubahan itu terlihat dalam Automechanika Jakarta 2026, yang untuk pertama kalinya digelar di Indonesia. Pameran komponen dan industri aftermarket otomotif tersebut berlangsung 24–27 September 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang. Sebanyak 339 eksibitor dari Indonesia dan mancanegara berpartisipasi dalam area sekitar 20.800 meter persegi.

Pameran ini mencakup berbagai sektor, mulai dari suku cadang dan komponen, kelistrikan dan elektronik, aksesori, diagnostik dan perbaikan, hingga manufaktur dan otomasi otomotif.

Ketika Kendaraan Berubah, Komponen Ikut Berubah

Kendaraan listrik membawa perubahan terhadap struktur komponen sebuah kendaraan.

Mesin pembakaran, transmisi konvensional dan sejumlah komponen mekanis yang selama puluhan tahun menjadi bagian utama industri otomotif mulai berdampingan dengan teknologi baru seperti baterai, motor listrik, power electronics, sistem manajemen baterai dan berbagai perangkat elektronik.

Perubahan tersebut membuat industri komponen perlu menyesuaikan kemampuan produksinya.

Bagi perusahaan komponen lokal, tantangannya bukan hanya mempertahankan pasar yang sudah ada, tetapi juga menemukan posisi dalam rantai pasok kendaraan generasi baru.

Pameran Menjadi Etalase Industri Lokal

Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) melihat Automechanika Jakarta sebagai kesempatan untuk memperkenalkan kemampuan manufaktur Indonesia kepada pasar global.

Ketua Bidang Promosi dan Public Relations GIAMM Gagat Prijawan mengatakan pameran tersebut diharapkan menjadi etalase bagi produsen manufaktur Indonesia sekaligus membuka hubungan dengan pasar internasional.

Dalam rangkaian kegiatan pameran juga terdapat pembahasan mengenai peta jalan industri otomotif Indonesia, investasi asing, serta perusahaan joint venture dengan Jepang yang telah lama beroperasi di Indonesia.

Dengan demikian, Automechanika tidak hanya menjadi tempat memperkenalkan produk suku cadang, tetapi juga ruang untuk mempertemukan produsen lokal dengan calon mitra dan pembeli dari pasar internasional.

Industri Komponen Mulai Pulih

Perubahan teknologi berlangsung ketika industri komponen sendiri sedang menghadapi fase pemulihan.

Data yang dikutip GAIKINDO menunjukkan penjualan kendaraan roda empat domestik sepanjang Januari–Juli 2026 mencapai 517.742 unit, meningkat 18,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penjualan ritel mencapai 511.514 unit atau tumbuh 12,3 persen secara tahunan.

GIAMM menyebut pertumbuhan kendaraan tersebut turut memberikan dampak terhadap permintaan komponen karena sebagian besar perusahaan komponen memasok kebutuhan industri kendaraan roda dua maupun roda empat. Pelaku industri juga memperkuat pasar replacement part serta ekspor untuk menjaga pertumbuhan bisnis.

Namun pertumbuhan permintaan komponen tidak berarti seluruh pemain otomatis siap menghadapi perubahan teknologi.

Segmen kendaraan listrik membutuhkan jenis komponen dan kemampuan teknologi yang berbeda. Karena itu, perusahaan yang selama ini fokus pada komponen kendaraan konvensional perlu menentukan bagaimana mereka beradaptasi.

TKDN Menjadi Persoalan Penting

Perubahan tersebut juga berkaitan dengan kebijakan peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) kendaraan listrik.

Peta jalan pemerintah menetapkan TKDN kendaraan listrik minimal 40 persen pada 2026, kemudian meningkat menjadi 60 persen pada periode 2027–2028 dan minimal 80 persen pada 2030. GAIKINDO menilai pelaksanaan peningkatan TKDN tersebut perlu dikawal agar benar-benar memberikan manfaat bagi industri otomotif nasional.

Target tersebut membuka peluang bagi produsen komponen lokal, tetapi sekaligus menuntut kemampuan industri untuk memenuhi standar kualitas, volume produksi dan teknologi yang dibutuhkan produsen kendaraan.

Artinya, peningkatan TKDN tidak cukup hanya dengan mengganti sumber pemasok. Industri lokal juga harus memiliki kapasitas yang mampu memenuhi kebutuhan manufaktur kendaraan secara konsisten.

Peluang Baru bagi Industri Lokal

Perubahan menuju kendaraan listrik juga menciptakan jenis kebutuhan baru.

Perusahaan komponen dapat masuk ke sektor kelistrikan kendaraan, sistem pengisian daya, perangkat elektronik, sistem manajemen energi, komponen pendukung baterai hingga layanan perawatan kendaraan listrik.

Peluang tersebut juga muncul di sektor aftermarket. Ketika jumlah kendaraan listrik bertambah, kebutuhan terhadap teknisi, alat diagnostik, perangkat servis dan komponen pengganti juga akan berkembang.

Namun, karakter perawatannya berbeda dari kendaraan bermesin pembakaran. Industri aftermarket perlu menyiapkan sumber daya manusia dan peralatan yang sesuai dengan teknologi kendaraan listrik.

Baterai Menjadi Tantangan Berikutnya

Ekosistem kendaraan listrik juga menghadirkan persoalan yang sebelumnya tidak menjadi perhatian sebesar sekarang, yaitu pengelolaan baterai setelah masa pakainya berakhir.

Dalam rapat Panja Pengembangan Ekosistem dan Daya Saing Industri Kendaraan Listrik Nasional Komisi VII DPR pada September 2026, muncul dorongan agar pengembangan kendaraan listrik juga mencakup pengelolaan baterai bekas hingga akhir masa pakai. Pembahasan tersebut mencakup struktur industri, TKDN, standardisasi, kemitraan lokal dan ekonomi sirkular.

Persoalan tersebut menunjukkan bahwa rantai industri kendaraan listrik tidak berhenti ketika kendaraan keluar dari pabrik. Pengelolaan komponen setelah kendaraan digunakan juga menjadi bagian dari ekosistem baru.

Bukan Hanya Menjadi Pasar

Pembukaan Automechanika Jakarta 2026 juga membawa pesan yang lebih luas mengenai posisi Indonesia dalam industri otomotif regional.

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan kehadiran pameran tersebut menunjukkan perubahan pandangan industri otomotif global terhadap posisi Indonesia. Pemerintah ingin Indonesia semakin berperan sebagai basis produksi, mitra rantai pasok dan pusat regional untuk investasi.

Bagi industri komponen lokal, tantangannya adalah memanfaatkan momentum tersebut.

Pertumbuhan kendaraan listrik dapat menjadi tekanan bagi sebagian model bisnis lama, tetapi sekaligus membuka ruang bagi produk dan teknologi baru. Perusahaan yang mampu melakukan lokalisasi, meningkatkan kualitas dan menguasai teknologi baru berpeluang mengambil bagian dalam rantai pasok kendaraan generasi berikutnya.

Pada akhirnya, keberhasilan transformasi industri otomotif Indonesia tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak mobil listrik yang terjual.

Pertanyaan yang sama pentingnya adalah berapa banyak komponen kendaraan tersebut dapat diproduksi di dalam negeri, berapa besar nilai tambah yang tercipta, dan seberapa jauh perusahaan lokal dapat masuk ke rantai pasok global.

Automechanika Jakarta 2026 menjadi salah satu ruang untuk melihat proses tersebut secara langsung—ketika industri komponen Indonesia mulai berhadapan dengan perubahan terbesar dalam teknologi otomotif dalam beberapa dekade terakhir.