JAKARTA, DeiJournal – Perubahan besar sedang berlangsung di industri otomotif Indonesia. Mobil dengan mesin pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE) masih mendominasi jalan raya, tetapi kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) mulai mengambil porsi yang semakin besar di pasar.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) menunjukkan pangsa BEV meningkat dari hanya 0,1 persen pada 2021 menjadi 12,9 persen pada akhir 2025. Memasuki Maret 2026, porsinya kembali meningkat menjadi sekitar 15,6 persen. Pada periode yang sama, penjualan BEV mencapai 33.146 unit, naik 96 persen dibanding periode sebelumnya.
Perubahan tersebut tidak hanya terlihat dari angka penjualan. Jumlah pilihan mobil listrik yang tersedia di pasar juga berkembang pesat. GAIKINDO mencatat jumlah model BEV yang beredar telah mencapai 74 model, dibandingkan hanya 11 model pada 2021.
Artinya, kendaraan listrik tidak lagi menjadi segmen kecil yang hanya diisi beberapa produk. Produsen mulai menempatkannya sebagai bagian penting dari strategi bisnis mereka.
Pasar Mulai Berubah
Salah satu faktor yang mendorong perubahan adalah semakin beragamnya produk.
Mobil listrik kini hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari city car, sedan, SUV hingga MPV. Pada saat yang sama, selisih harga antara kendaraan listrik dan kendaraan bermesin konvensional juga semakin menyempit pada sejumlah segmen.
GAIKINDO mencatat bahwa harga sejumlah BEV yang sebelumnya berada di atas Rp500 juta kini sudah mulai masuk ke kisaran Rp300 juta, bahkan terdapat produk di bawah angka tersebut. Kondisi ini membuat kendaraan listrik mulai menjangkau konsumen yang lebih luas.
Namun pertumbuhan pasar tersebut tidak berarti kendaraan konvensional akan segera hilang.
Industri otomotif Indonesia masih memiliki ekosistem besar yang dibangun selama puluhan tahun. Pabrik, pemasok komponen, jaringan bengkel, tenaga kerja, distribusi hingga konsumen masih sangat bergantung pada kendaraan bermesin pembakaran.
Karena itu, transisi menuju kendaraan listrik lebih tepat dilihat sebagai perubahan struktur industri secara bertahap, bukan pergantian teknologi secara tiba-tiba.
Investasi Mulai Masuk
Perubahan pasar juga diikuti investasi manufaktur.
Kementerian Perindustrian mencatat saat ini terdapat 14 perusahaan yang telah berinvestasi pada sektor kendaraan listrik roda empat, dengan total investasi sekitar Rp24,13 triliun dan kapasitas produksi mencapai 409.860 unit per tahun.
Angka tersebut menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pasar kendaraan listrik.
Pabrik dan fasilitas produksi mulai dibangun untuk menjadikan Indonesia sebagai bagian dari rantai produksi kendaraan listrik. Peresmian fasilitas produksi BYD di Subang pada September 2026 menjadi salah satu perkembangan terbaru dalam proses tersebut.
Tetapi investasi pabrik saja belum cukup.
Tantangan berikutnya adalah memastikan semakin banyak nilai ekonomi kendaraan tersebut berasal dari industri dalam negeri.
TKDN Menjadi Ujian Berikutnya
Pemerintah menetapkan peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebagai salah satu instrumen untuk memperdalam struktur industri.
Peta jalan yang berlaku menetapkan TKDN kendaraan listrik minimal 40 persen hingga 2026, meningkat menjadi 60 persen pada 2027–2029, dan kemudian 80 persen mulai 2030.
Target tersebut bukan sekadar persoalan persentase.
Semakin tinggi TKDN, semakin besar tuntutan agar industri lokal mampu menyediakan komponen yang sebelumnya banyak diperoleh dari luar negeri.
Salah satu komponen paling penting adalah baterai.
Kementerian Perindustrian menyebut peningkatan TKDN diarahkan agar produksi baterai dan modulnya semakin berkembang di dalam negeri pada periode 2027–2029. Sementara target 80 persen pada 2030 diharapkan mendorong lokalisasi komponen yang lebih luas.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan transisi kendaraan listrik bukan hanya berapa banyak mobil listrik yang terjual.
Pertanyaan yang lebih besar adalah: berapa banyak nilai tambah yang tinggal di Indonesia?
Dari Pabrik Perakitan ke Rantai Pasok
Indonesia memiliki modal penting untuk membangun ekosistem tersebut, terutama karena memiliki sumber daya mineral yang berkaitan dengan industri baterai.
Namun memiliki bahan baku tidak otomatis membuat sebuah negara memiliki industri kendaraan listrik yang kuat.
Diperlukan kemampuan pengolahan, teknologi, manufaktur komponen, riset, sumber daya manusia, hingga jaringan pemasok yang mampu memenuhi standar industri otomotif global.
Di sinilah industri komponen nasional menghadapi tantangan baru.
Pada era kendaraan konvensional, pemasok telah terbiasa memproduksi berbagai komponen mesin, transmisi dan sistem mekanis. Kendaraan listrik mengubah sebagian kebutuhan tersebut dengan meningkatnya peran baterai, motor listrik, inverter, sistem manajemen baterai, perangkat elektronik dan perangkat lunak.
Transformasi tersebut membuka peluang bagi pemain lama untuk beradaptasi sekaligus menciptakan ruang bagi industri baru.
Infrastruktur Juga Menentukan
Pertumbuhan mobil listrik tidak bisa dilepaskan dari kesiapan infrastruktur pengisian daya.
Konsumen membutuhkan kepastian bahwa kendaraan dapat digunakan untuk perjalanan sehari-hari maupun perjalanan jarak jauh. Karena itu, perkembangan SPKLU, lokasi pengisian, waktu pengisian, keandalan jaringan listrik dan standar konektor menjadi bagian dari ekosistem yang menentukan.
Bagi konsumen, teknologi kendaraan mungkin terlihat pada produk yang mereka beli. Tetapi bagi industri, perubahan yang sebenarnya jauh lebih luas: mulai dari pembangkit dan jaringan listrik hingga pabrik, pemasok komponen dan layanan purnajual.
GIIAS Semarang Menjadi Salah Satu Gambaran
Perubahan tersebut juga terlihat dalam pameran otomotif.
GIIAS Semarang 2026 dijadwalkan berlangsung pada 30 September–4 Oktober 2026 di Muladi Dome, Semarang. Dari 18 merek mobil yang berpartisipasi, 12 di antaranya membawa mobil listrik, sementara enam merek membawa mobil konvensional.
Komposisi tersebut memberikan gambaran tentang bagaimana produsen mulai mengalokasikan ruang lebih besar untuk teknologi elektrifikasi.
Pameran otomotif yang dahulu identik dengan mesin, tenaga dan desain kini semakin banyak berbicara mengenai baterai, jarak tempuh, teknologi pengisian dan efisiensi energi.
Jadi, Sudah Siapkah Indonesia?
Jawabannya tidak sesederhana siap atau belum.
Indonesia sudah memiliki beberapa fondasi penting: pasar yang berkembang, investasi manufaktur, semakin banyak model kendaraan listrik, kebijakan TKDN dan pembangunan ekosistem baterai.
Namun masih terdapat pekerjaan besar untuk memastikan perubahan tersebut menghasilkan industri nasional yang lebih dalam, bukan sekadar meningkatnya jumlah kendaraan listrik yang dirakit atau dijual di dalam negeri.
Industri komponen harus berkembang. Tenaga kerja harus beradaptasi. Infrastruktur pengisian harus diperluas. Kemampuan riset dan pengembangan perlu ditingkatkan. Pada saat yang sama, produsen harus mampu menjaga harga dan kualitas agar kendaraan listrik dapat diterima oleh pasar yang lebih luas.
Transisi otomotif pada akhirnya bukan hanya tentang mengganti mesin bensin dengan baterai.
Ia adalah perubahan dari cara kendaraan diproduksi, komponen dibuat, energi digunakan, tenaga kerja bekerja, hingga bagaimana Indonesia menempatkan diri dalam rantai industri otomotif global.
Indonesia sudah memasuki fase perubahan tersebut. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa ketika kendaraan listrik semakin memenuhi jalan-jalan Indonesia, industri nasional juga ikut tumbuh di balik setiap kendaraan yang melintas.